Jenazah Alfa saat dimakamkan, Mantan ketua PC Ansor Kabupaten Tulungagung Syahrul Munir / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES
Jenazah Alfa saat dimakamkan, Mantan ketua PC Ansor Kabupaten Tulungagung Syahrul Munir / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Meninggalnya Alfa Isnaeni, komandan satuan koordinasi Nasional (Satkornas) Banser GP Ansor menyisakan duka dan kenangan mendalam. Alfa Isnaeni yang meninggal dunia secara mendadak terkena serangan jantung saat dirinya masih di Jakarta.

"Pagi beliau ngantor di KSP (kepala staf Kepresidenan), kemudian sekitar jam 9. 00 wib pagi ke kantin untuk sarapan. Ketika di kantin beliau muntah-muntah," kata Hariyadi, Protokoler Banser Nasional, Rabu (11/03) siang.

Dari cerita yang didapatkan, Hariyadi melanjutkan setelah kejadian itu, pemilik kantin telepon ke seseorang dan menceritakan keadaan yang dialami Alfa Isnaeni.

"Akhirnya  beliau minta  untuk dibawa ke rumah sakit, minta agar rumah sakit tersebut adalah yang dekat dengan kantor GP Ansor," ujarnya.

Akhirnya, Alfa yang sudah lemah itu dibawa ke RS kramat 128 yang dekat kantor Ansor sekitar jam 09.30 wib dan langsung ditangani oleh empat dokter dan perawatnya.

"Jam 10.00 wib beliau sudah tak sadarkan diri dan kondisi semakin menurun dan Jam 11.19  dinyatakan dokter meninggal dunia," paparnya.

Di mata sahabat dan anak buahnya, Alfa dikenal tegas dan membela bangsa dan negara dengan tulus.

"Beliau sosok yang tegas membela NU, lebih-lebih terhadap konsep NKRI yang sudah final," kata mantan ketua PC Ansor Syahrul Munir.

Bahkan menurut Munir, dalam aktivitas berorganisasi skala Nasional di Banser, fisik Alfa tidak terlalu dipikirkan.

"Beliau lebih memprioritaskan mengawal kaderisasi ke seluruh pelosok negeri," terangnya.

Munir juga mengenang kedekatannya dengan Alfa yang sudah lama menjadi pimpinan dan sangat dikenal di Ansor. 
"Saya ingat, beliau selalu mau berbagi panggung dengan yunior. Suatu saat ada perhelatan seremonial, yang semestinya beliau berhak memberi sambutan resmi, tapi untuk melatih mental anak buah, panggung itu rela diberikan kepada saya," jelas Munir yang merupakan Yunior Alfa.

Alfa sendiri menurut Munir, selalu mengajarkan  tawadhu kepada kiai, perintah perjuangan di NU, juga tentang ukhuwah, baik sesama muslim maupun non muslim.

"Tak heran sampai saat ini beliau sering diminta mengawal Ning Yeni Wahid dalam aktivitas di lembaga The Wahid Foudation," ungkapnya.

Rencana pemulangan Alfa Isnaeni sendiri sudah dijadwalkan. Jika tidak ada halangan Alfa Isnaeni akan dimakamkan, Rabu tengah malam atau Kamis (12/03) dini hari.

Berikut rencana Protokoler yang disampaikan sejumlah pengurus Banser melalui media sosial WhatsApp.

Pukul 13.00 WIB Jenazah disalatkan pertama kali di Kantor PP GP ANSOR NU/MARKAS KOMANDO BANSER INDONESIA di Jl. Kramat Raya Jakarta dan kemudian disalatkan untuk kedua kalinya di Masjid Kantor PBNU.

Pukul 14.00 WIB setelah disalatkan di Masjid PBNU, jenazah diberangkatkan menuju bandara Soekarno Hatta.

Pukul 17.30-18.30 WIB : Jenazah diterbangkan dari Bandara Soekarno Hata menuju Juanda SBY

Pukul 19.00 - 21.30 WIB Jenazah diberangkatkan menuju Rumah Duka di Tulungagung dengan pengawalan TIM GARNISUM, Jajaran tim SATKORNAS BANSER dan PW GP ANSOR JATIM.

Pukul 22.00 - 23.30 WIB Jenazah disalatkan di rumah duka oleh Keluarga Besar NU dan ANSOR BANSER Tulungagung.

Pukul 23.30-24.00 WIB Upacara Penghormatan terakhir oleh satuan Tim SARKORNAS BANSER INDONESIA.

Pukul 00.00-00.30 WIB pemberangkatan jenazah menuju peristirahatan terakhir di Taman Makam Keluarga di Dusun Karangduren Bendil Panggungrejo Tulungagung oleh para Masyayikh PWNU Jatim dan PCNU Tulungagung.