Ilustrasi puisi (pixabay)
Ilustrasi puisi (pixabay)

Syntomi Mini

*dd nana

-terkadang ingatan ingin melupa, mendebukan luka-

-22
Padamu, rindu serupa piatu 
dengan kaki ringkih yang diseret sepatu
menuju pintu rumahmu
masihkah kau menunggu
dengan mata yang dipenuhi rindu.

23-
Karena rasa pahit dikekalkan ingatan yang mahir menyimpan segala. Kau yang ternyata masih kekal di kepala.

-24
Sabtu, debu dan perihal sederhana yang tak membuat jemu
rindu ternyata sesederhana itu
tak seliar tampang bengalnya yang
merunduk takzim di dalam senyummu.

25-
Mengenali gelisah angin kemarau
aku ingat ragaku yang rengkah oleh pisau risau.
Di mata tertajamnya, masih kulihat
sepasang tangan mencoba saling melingkar
serupa puisi yang saling mencari
dan menanti. 
Risau rindu begitu laknat, puan, percayalah.

-26
Pada ragamu, Minggu menyeru
Sebelum cerita diakhiri kata seru.
Menjenguk sepi sebelum api
bekerja lagi, melantakkan sunyi
pada tepi yang tak lagi dipahami.

27-
Larungkan saja ingatan
mungkin secangkir kopi 
masih bisa menghibur diri
Sebelum mati.
Hingga pagi jadi spasi
untuk diri sendiri.
Mari menyepi sesekali
pada segelas kopi pagi atau puisi
yang tak jadi dan kita tinggal pergi.

-28
Kucari dia di saku celana dan kemeja
Bahkan, kurogoh isi dada dan kepala
hanya sunyi yang meraung
di jemari tanganku.
Namamu tak terhidu kini.

*hanya penikmat kopi lokal