Ilustrasi (kbknews).
Ilustrasi (kbknews).

Kepolisian telah menetapkan dua tersangka atas kasus perundungan yang menimpa salah satu siswa SMP Negeri di Kota Malang belum lama ini. 

Namun meski begitu, Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Beremcana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang sebagai salah satu perangkat daerah yang konsen pada anak-anak belum memberi rekomendasi hukuman yang tepat pada tersangka.

Kepala Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, Penny Indriani menyampaikan, pihaknya masih merasa kesulitan untuk memberikan rekomendasi jenis hukuman kepada pihak kepolisian. 

Pasalnya, pelaku yang telah ditetapkan tersangka dalam hal ini masih berusia di bawah umur.

"Karena masih anak-anak, itu yang membuat kami sedikit kesulitan," katanya.

Penny menjelaskan, saat ini pihaknya juga masih konsentrasi memberi pendampingan kepada para pelaku juga korban. 

Dari proses pendampingan itu nantinya akan diketahui psikologi anak yang bersangkutan. Kemudian baru bisa diambil langkah selanjutnya berkaitan dengan kasus yang masuk dalam ranah hukum tersebut.

"Kami juga menunggu rekomendasi dari psikolog yang mendampingi di lapangan. Karena untuk mengetahui psikoligis anak tentu butuh waktu," jelasnya.

Lebih jauh perempuan berhijab itu menyampaikan, berbagai pertimbangan masih terus digodok. Dengan harapan, langkah yang diambil nantinya tepat dan sesuai dengan peraturan yang berlaku selama ini. Terutama untuk jenis hukuman yang diberikan kepada pelaku di bawah umur.

"Kami terus komunikasikan dengan psikolog kami," terang Penni.

Sebelumnya, kasus perundungan yang menimpa salah satu siswa SMP Negeri di Kota Malang ini banyak menyedot perhatian publik. 

Pasalnya, siswa berinisial MS yang menjadi korban dalam peristiwa perundungan itu harus merelakan jari tengahnya untuk diamputasi.

Saat ini, korban sudah kembali ke rumahnya setelah dirawat selama dua minggu lebih. Pendampingan terhadap korban juga masih terus dilakukan hingga sekarang.