Arak-arakan Santri Ponpes Mambaus Sholihin Blitar yang sukses meraih juara dalam gelaran World Robotic For Peace di Malaysia.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Arak-arakan Santri Ponpes Mambaus Sholihin Blitar yang sukses meraih juara dalam gelaran World Robotic For Peace di Malaysia.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Tim Robotik Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaus Sholihin Kabupaten Blitar mendapatkan raihan gemilang dalam gelaran World Robotic For Peace di University Johorbahru, Malaysia, pada 6-7 Februari 2020. Kontes robot tingkat internasional ini diikuti oleh 10 negara. Salah satunya Indonesia yang diwakili Ponpes Mambaus Sholihin dari Desa Sumber,  Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar.

Di mana tim beranggotakan 12 santri yang dikirimkan Ponpes Mambaus Sholihin dan mewakili Indonesia sukses meriah juara umum dalam ajang tersebut. Juara umum diraih setelah para santri menyabet juara 1 kategori Soccer Close, juara 1 soccer close junior, juara 1 line follower, juara 2 sumo dan juara 2 ASV (Amfibious Solar Vehicle).

Setelah berkompetisi dan sukses menorehkan prestasi internasional, kedua belas santri akhirnya tiba di tanah air pada Selasa (11/2/2020). Setiba di Kabupaten Blitar, mereka terlebih dulu diobservasi di RSUD Ngudi Waluyo, sebagai antisipasi wabah virus corona. Setelah dinyatakan sehat, para santri diarak menuju Ponpes Mambaus Sholihin.

Ya, virus corona memang menjadi salah satu momok bagi keduabelas santri selama melakukan perjalanan mengikuti kontes robotik internasional. Setelah lepas landas dari Indonesia, rombongan tim diketahui tiba di Singapura. Rencananya, selain di Malaysia, tim juga akan mengikuti kontes robot di Singapura. Namun wabah virus corona menjadi faktor kegagalan mereka ikut kompetisi di Singapura.

Sekedar diketahui, Perkembangan wabah virus membuat Singapura terkena getahnya. Banyaknya warga di negara kota itu yang terinfeksi virus mematikan asal Wuhan, China tersebut, memaksa sejumlah negara mengeluarkan larangan atau meminta warganya waspada bepergian ke sana.

Kebijakan ini di antaranya diputuskan Qatar, Kuwait, Inggris, dan India. Penyebaran virus corona di Singapura memang cukup memprihatinkan. Lebih dari separuh dari 43 orang yang terinfeksi terbukti telah menularkan virus corona terhadap warga setempat. Saat ini enam orang dalam kondisi kritis. Singapura pun menjadi negara dengan kasus virus corona terbanyak di luar China.

Dilansir dari Kompas.com, berdasarkan data dari Gisandata, Selasa (11/2/2020) pukul 06.33 WIB, ada 6 negara di Asia Tenggara yang positif ditemukan infeksi virus bernama lain 2019-novCov ini.

Selain China, ada 6 negara di Asia tenggara yang terinfeksi virus Corona yakni Singapura, dengan kasus terbanyak yaitu 45 kasus, Thailand dengan 32 kasus, Malaysia dengan 18 kasus , Vietnam 14 kasus, Filipina 3 kasus dan  Kamboja 1 kasus Dari semua kasus infeksi, hingga saat ini hanya ditemukan 1 kasus kematian akibat virus ini di Kawasan Asia Tenggara, yakni di Filipina. Sementara, Indonesia hingga saat ini masih menyatakan negatif kasus terinfeksi corona.

Dikatakan oleh Yasroni Indra Logi selaku pendamping dan pembimbing Tim Robotik Ponpes Mambaus Sholihin, timnya terpaksa mundur dari kompetisi di Singapura karena banyak peserta dari beberapa negara yang mundur karena khawatir ancaman virus corona.

“Kondisi di Singapura sudah kami perhitungkan jelang keberangkatan. Kami sudah diberi aba-aba, bahwa untuk kompetisi di Singapura kemungkinan di-cancel,” katanya.

Meskipun sudah membaca kondisi di Singapura, Tim Robotik Ponpes Mambaus Sholihin tetap tiba di Singapura melalui penerbangan dari  Jakarta. Yasroni menceritakan kondisi di Singapura yang sepi, akibat dari wabah virus corona di negara itu.

“Kondisi Singapura sangat sepi, di bandara itu hanya kami saja, yang dicek barang untuk keberangkatan itu hanya kami saja. Bahkan tidak ada keberangkatan yang lain, saya tanya orang yang di sana itu untuk negara yang terinfeksi corona seperti China dan Hong Kong itu sudah diblokir sama Singapura,” paparnya.

Saat berada di Singapura, seluruh anggota tim Robotik Ponpes Mambaus Sholihin juga tak luput dari pemeriksaan petugas. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan seluruh anggota tim benar-benar tidak terinfeksi virus corona.”Proses screening 2 kali di Singapura. Kalau untuk Johorbahru itu tidak ada, bahkan di sana itu biasa saja, tidak ada yang pakai masker," beber dia.

Virus corona juga mempengaruhi jalur transportasi udara. Menurut Yasroni, dirinya beserta tim harus mengalihkan penerbangan setelah di cancelnya penerbangan bandara Juanda-Johor bahru Malaysia. Untuk penerbangan, tim harus landing dari Jakarta.

“Lima maskapai kami dicancel (menuju Malaysia), akhirnya kami harus naik kereta api dari Blitar ke Jakarta. Kami akhirnya ke Singapura dulu, harunya kan Johorbahru dulu baru ke Singapura. Jadi setelah semua maskapai ditolak semua, akhirnya kami mau tak mau harus berangkat dari Jakarta. Beberapa kendala kami dengan perjalanan yang jauh ini, robot kita kan banyak, susah dibawa,” paparnya.

Tak hanya itu, virus corona juga mempengaruhi perjalanan kepulangan dari Negeri Jiran Malaysia.”Pulangnya di cancel dua kali, pesawat kami dari Garuda ganti Air Asia. Kami terbang pulang dari Kuala Lumpur. Alhamdulilah kami bisa sampai di tanah air dengan selamat. Setiba di Indonesia kami juga diobeservasi, tadi malam, dan siang tadi di RSUD Ngudi Waluyo Blitar. Observasi untuk memastikan kami benar-benar bebas dari virus corona,” lanjutnya.(*)