Wakil Ketua Fraksi PKS Rokhmad (Foto: instagram @rokhmad_qa)
Wakil Ketua Fraksi PKS Rokhmad (Foto: instagram @rokhmad_qa)

Seiring dengan terus menyeruaknya dugaan kasus bullying yang menimpa siswa berinisial MS di SMPN 16 Kota Malang, persoalan pendidikan karakter juga menjadi sorotan. Kejadian ini seolah menjadikan model pembelajaran itu masih dianggap lemah.

Kelalaian akan pengawasan dalam aktivitas siswa sekolah menjadi sorotan. Apalagi, korban perundungan harus mengalami amputasi jari tengah tangan kanannya.

Wakil Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Malang Rokhmad menyatakan, kejadian yang dialami MS bisa dijadikan pembelajaran bagi semua sekolah. Sebab, bukan tidak mungkin masih ada aktivitas pelajar yang melakukan aksi bullying namun tidak terdeteksi oleh lini massa.

Ia menekankan, penguatan dalam pendidikan karakter siswa dalam hal ini juga harus lebih dimaksimalkan. Jadi, bukan hanya satu dua orang guru yang terlibat, melainkan menjadi tanggung jawab semua warga guru di sekolah.

"Selama ini kita sering tahu pendidikan karakter, katakan akhlak, dibebankannya kepada guru agama, guru BK (bimbingan konseling). Padahal, semua guru, baik guru matematika, olahraga, hingga kepala sekolah, harus menanamkan itu. Sehingga semua menerima andil pembagian dari pembentukan karakter itu," ungkapnya Jumat (7/2).

Di samping itu, Rokhmad mengatakan, peran orang tua dan lingkungan juga berpengaruh dalam pendidikan karakter anak. Sehingga, sangat penting menjaga pola komunikasi antara anak dengan orang tua. 

"Jadilah orang tua yang sering bertanya. Kasih solusi, jangan hanya marah-marah. Karena anak butuh kasih sayang, butuh pelukan, dan butuh keteladanan," imbuhnya.

Pria yang juga menjabat sebagai sekretaris Komisi D DPRD Kota Malang ini lebih lanjut menyatakan, untuk menjadikan seorang anak mencapai kesuksesan, harus terpenuhi pembinaan dari tiga unsur. Yakni pihak sekolah, masyarakat, dan orang tua.

"Sehingga berkaitan dengan karakter anak ini, ayo bersama-sama. Suksesnya anak tidak hanya melalui pembinaan di sekolah, tapi juga di masyarakat dan di rumah (orang tua). Ketiganya ini satu kesatuan yang tak bisa terpisah," tandasnya.