Ilustrasi puisi (pixabay)
Ilustrasi puisi (pixabay)

Hei, Lukai Aku Lagi Dong!
*dd nana

-11
Kesedihan akan terasa panjang
tanpa nyeri yang disampirkan
seperti hari yang mati. Seperti daun jendela
puisi yang sunyi. 
Pada nyeri yang disunyikan subuh
aku suling energi, untuk mencintai
demi segala yang masih jernih walau telah lama
mati.

12-
untuk solilokui 
yang menggoreskan luka di mata sajak
yang sempat aku titipkan pada bangku
bangku sunyi di stasiun kereta api.
Kau menulis waktu tentang akhir kemarau
dan aku yang sibuk menerima banyak gerimis
tapi, padamu, aku masih menulis surat, bukan?

-13
Sore menikam cahaya
melahirkan malam 
demi lahirnya bintang-bintang.
Tapi di sini puan, hanya ada gerimis
yang magis, yang menyisipkan ingatan
luka-luka yang berpinak.
"Tapi, itu yang kau cari, bukan?".
Aku menatap langit  yang dikaburkan
gerimis malam, mencari bintangku yang paling 
terang.
"Dia sembunyi di cahaya. Tikamlah,".

14-
Sepagi ini aku bungkus
dingin Januari
dengan kertas warna merah jambu 
kugoreskan nama dan alamatmu.
Sebelum akhirnya aku bakar di perigi
kopi.

-15
Persembunyianmu, aku tahu
di garis tangan yang mengaburkan mata waktu
tapi rindu, cinta, tak punya ragu
untuk menemu-cumbu tubuhmu.
Kini, izinkan aku mengetuk daun pintumu.

16-
Aku percaya, pada bibirmu
pintu segala resah terkunci
dan desah menjadi ingatan yang paling baik
mengajari luka.

*Hanya penikmat kopi lokal