Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko (dua dari kiri) didampingi Plt Kepala Dinkes Kota Malang Sri Winarni saat menghadiri Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC (Humas Pemkot Malang for MalangTINES).
Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko (dua dari kiri) didampingi Plt Kepala Dinkes Kota Malang Sri Winarni saat menghadiri Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC (Humas Pemkot Malang for MalangTINES).

Data menunjukkan, Indonesia merupakan negara ketiga tertinggi kasus TBC setelah India dan Cina. 

Angka itu menjadi perhatian bagi pemerintah Indonesia. 

Melalui  gerakan eliminasi TBC, diharapkan angka kasus TBC di Indonesia dapat terus ditekan. 

Salah satunya melalui perwujudan lingkungan hunian yang sehat  dalam mencegah perebakan TBC.

Gerakan Eliminasi TBC itu pun digelar di Technopark, Kota Cimahi, Jawa Barat, Rabu (29/1/2020). 

Acara tersebut diikuti 34 gubernur, 119 bupati dan wali kota se-Indonesia, serta sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Maju. 

Ikut hadir Wakil Walikota Malang Sofyan Edi Jarwoko beserta Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Sri Winarni.

Presiden Joko Widodo menyampaikan, fokus utama mengatasi TBC bukan pada pengobatan, melainkan pencegahan. 

Artinya, masyarakat juga harus dilibatkan untuk menciptakan lingkungan yang sehat. 

Salah satunya melalui perbaikan drainase yang dinilai sangat penting.  

Selain itu, penanganan sampah juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan untuk membangun permukiman sehat.  

Dia menekankan, jika urusan kesehatan bukan hanya tanggungjawab kementerian kesehatan atau dinas kesehatan, melainkan juga menjadi urusan kementerian dan dinas yang lainnya.

"Di antaranya PUPR, "demikian tegas Joko Widodo,  Presiden RI.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko menyampaikan, langkah dab upaya pencegahan serta pengendalian tetap menjadi perhatian dalam penanganan TBC. 

Dengan upaya itu, dia optimis penanganan TBC akan dapat ditangani dengan mudah.

Beedasarkan data Dinkes Kota Malang, pria yang akrab disapa Bung Edi itu menyampaikan, hingga per 27 Januari 2019, jumlah penderita TBC di Kota Malang sebanyak 2.218 pasien. 

Dari jumlah tersebut, sebanyak 331 telah sembuh setelah intens dilakukan pendampingan dan pengobatan secara rutin.

"Sementara sebanyak 540 pasien dalam proses pengobatan dan semoga sembuh sebagaimana 331 pasien terdahulu," katanya di sela sela menghadiri  pencanangan Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TBC 2030 di Cimahi.

Pria berkacamata itu menyampaikan, fokus pencegahan dan pengendalian TBC adalah penemuan kasus dan pengobatan. 

Sehingga, dia meminta Dinkes untuk mendata penderita TBC lalu melakukan pengobatan sebaik-baiknya.

"Atau istilahnya TOSS (temukan,  Obati Sampai Sembuh). Sampai sembuh, betul-betul harus sampai sembuh agar terhindar dari resistensi," tambahnya.

Cegah dan kendali ini, menurut Bung Edi sebagai bentuk langkah cegah dini. 

Menurut Pria ramah ini, kegiatan deteksi dini selaras dengan semangat gerakan masyarakat hidup sehat (Germas). 

Gerakan ini perlu menjadi suatu kegiatan terpadu dan memperkuat program Indonesia sehat melalui pendekatan keluarga (PIS-PK).

Diutarakan pula oleh Bung Edi, para kader Posyandu kota Malang dan didukung ibu ibu Muslimat dan Aisyiah kota Malang, juga telah melakukan upaya Ketuk Pintu (mendatangi langsung ke rumah-rumah) untuk melakukan pemeriksaan gejala TBC dari kontak pasien. 

Dari kegiatan seperti itu pula maka langkah upaya penyembuhan dioptimalkan sekaligus mendata.