Pembalakan liar hutan lindung di Malang Selatan semakin memprihatinkan setiap tahun. (Profauna/Ist)
Pembalakan liar hutan lindung di Malang Selatan semakin memprihatinkan setiap tahun. (Profauna/Ist)

Awal  2019 lalu, hutan lindung Apusan di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), yang berfungsi untuk konservasi vegetasi dan satwa endemik yang ada di dalamnya dilaporkan mengalami kerusakan mencapai 200 hektare (ha).

Memiliki luas total 566,2 ha, kerusakan hutan lindung Apusan hampir mencapai setengahnya. Serta mengakibatkan wilayah sekitar semakin rentan bencana alam dan satwa langka semakin menyusut keberadaannya.

Belum hilang dalam memori terkait kerusakan itu, hutan lindung lainnya yang berada di dalam wilayah Apusan, yaitu Sendiki, juga mengalami hal serupa. Terletak di petak 68D, hutan lindung Pantai Sendiki terancam gundul dengan kondisi terlihat gersang. Sebagian lahan lainnya beralih fungsi menjadi ladang. 

Pembalakan liar pohon di hutan Pantai Sendiki kembali yang menjadi sumber kerusakan tergerusnya berbagai hutan di Malang Selatan selama ini.

Hal ini masih terlihat dengan sisa-sisa pembalakan di lokasi. Baik pepohonan yang terlihat baru ditebang dan dibiarkan untuk kemudian hari dipotong menjadi bagian-bagian kecil hingga sisa serbuk pohon yang dibalak di lokasi yang memiliki luas hutan mencapai 500 ha.

Kondisi kerusakan hutan lindung Pantai Sendiki tak kalah parah dengan hutan lindung Apusan. Koordinator Program dan Juru Kampanye Profauna Erik Yanuara membenarkan terkait tingkat kerusakan yang disebutnya sudah parah di hutan lindung Sendiki.

"Sudah parah. Pembalakan liar di hutan Sendiki sudah mencapai sekitar 70 persen," ujarnya prihatin dengan kondisi berbagai hutan lindung di Malang Selatan yang setiap tahun tak lepas dari cengkraman para pembalak liar.

Dari berbagai penangkapan yang dilakukan oleh aparat kepolisian maupun polisi hutan Perhutani, pola pergerakan atau modus operandi para pembalak hampir sama setiap kali ditemukan. Menurut Erik, para pembalak liar beraksi saat malam hari. Sedangkan untuk cara mencuri pohon dilakukan dengan tiga cara yang kerap dilakukan.

Pertama, dengan membakar batang bagian bawah pohon supaya tumbang. Kemudian ada juga yang memakai pola meracuni pohon supaya mati dan yang ketiga dengan menebangnya secara langsung.

"Biasanya mereka beraksi secara berkelompok dan berbagi tugas. Ada yang menang, ada yang bagian memotongnya kecil-kecil dan juga ada bagian yang mengangkutnya menggunakan motor," urai Erik.

Dia  juga menyampaikan untuk jalur angkut di hutan lindung Sendiki, yaitu melalui jalan paving sepanjang 200 meter yang memang telah terbangun di sana.

Para pembalak liar itu pun sayangnya merupakan warga yang berada di sekitar lokasi hutan lindung. Baik dari Desa Sidoasri, Tambaksari, bahkan warga Desa Tambakrejo sendiri. "Masyarakat di sini hanya ikut-ikutan saja sebenarnya. Ada pemain besar terkait pembalakan hutan lindung ini," imbuhnya.

Walau berkali-kali dilakukan operasi penangkapan penebang liar pohon di hutan lindung serta adanya sanksi pidana illegal logging yang terbilang berat, terutama yang berlokasi di hutan lindung, yaitu penjara 5 tahun dan denda Rp 5 miliar sesuai Pasal 50 Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999. Tapi, pembalakan liar terus saja terjadi setiap tahunnya. 

Seperti kisah klasik yang terus-menerus didengungkan, tapi tak pernah terselesaikan. Walau dampak pembalakan liar di berbagai hutan di Malang Selatan telah membuat wilayah tersebut menjadi bagian darurat bencana alam. Bila musim kemarau panjang, mengalami kekeringan dan air dari berbagai sumber tak lagi bisa memenuhi kebutuhan. Saat musim hujan, Malang Selatan meniadi wilayah rawan banjir dan longsor.

Kondisi itu juga yang kerap membuat geram polisi hutan Perhutani dan Polres Malang. Terus-menerus terjadi pembalakan liar di hutan lindung, membuat Kapolres Malang AKPB Yade Setiawan Ujung pun menginstruksikan jajarannya untuk melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus di hutan Pantai Sendiki.

"Kami sedang lakukan penyelidikan terkait itu. Sudah kami instruksikan ke jajaran untuk kasus pembalakan liar di hutan lindung yang tak hanya di Sendiki saja. Tapi juga di Malang Selatan," ujar Ujung yang juga menyampaikan pihaknya bekerja sama dengan Perhutani.