Kika: Pendamping korban dugaan pelecehan seksual, Dina Putri Pertiwi dan Koordinator MCW, M. Fahrudin
Kika: Pendamping korban dugaan pelecehan seksual, Dina Putri Pertiwi dan Koordinator MCW, M. Fahrudin

Belakangan kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan salah satu aktivis Malang Corruption Watch (MCW) berinisial AF santer diperbincangkan publik.

 Terduga pelaku AF dituduh telah melakukan kekerasan seksual terhadap dua mahasiswi di dua perguruan tinggi di Kota Malang. Dalam beberapa kronologi kejadian yang telah menyebar luas di dunia maya, aksi pelecehan disebut dilakukan pada 2018 dan 2019.

Pada Kamis (26/12/2019) siang, MalangTIMES pertama mendapatkan informasi tersebut. Sebuah kronologi lengkap kasus yang  disajikan dalam dokumen word disampaikan melalui pesan singkat WhatsApp. Di dalamnya, tertera kronologi lengkap dugaan kekerasan seksual oleh AF terhadap dua mahasiswi berbeda.

Untuk korban pertama atau yang kemudian disebut X, disampaikan bahwa kejadian tak terpuji itu diterima pada Oktober 2018. Aksi serupa selanjutnya kembali dilakukan pada November dan Desember 2018. Bahkan, terduga pelaku juga disebut sering merayu korban X untuk melakukan video sex dan secara diam-diam mendokumentasikannya ke video tanpa persetujuan korban.

Sementara pada kronologi aksi kekerasan seksual terhadap korban kedua, yaitu Y, terduga pelaku AF disebut melakukan aksi serupa pada Agustus dan September 2019.

Pasca-menerima kronologi lengkap tersebut, MalangTIMES mencoba mencari akses pendamping korban dalam kasus pelecehan seksual tersebut. Hingga akhirnya, MalangTIMES berhasil mendapatkan nomor salah satu pendamping kedua korban, yaitu Dina Putri Pertiwi.

MalangTIMES mencoba menghubungi  Dina Putri Pertiwi pada Jumat (27/12/2019). Chat yang disampaikan melalui WhatsApp langsung direspons. Pada obrolan pertama, MalangTIMES menanyakan kebenaran peristiwa pelecehan yang saat itu juga masih ramai atau viral di media sosial. Saat itu Dina menyampaikan bahwa kabar tersebut benar adanya.

"Iya. Hari ini korban kedua sedang down karena pelaku berusaha untuk kontak dia (korban ke dua atau Y)," katanya kepada MalangTIMES melalui pesan singkat WhatsApp.

Pendamping korban dugaan pelecehan seksual, Dina Putri Pertiwi (tengah berponi)

Dina juga menyampaikan bahwa kondisi kedua korban dan langkah yang akan diambil pendamping akan disampaikan di waktu yang tepat. "Maaf, nanti saya kabari ya Kak," katanya singkat. 

Sementara pertanyaan MalangTIMES berkaitan dengan upaya atau rencana yang akan dilakukan pendamping hari itu, Dina hanya menanggapi melalui pesan yang terbaca.

Lantaran belum mendapatkan informasi yang jelas berkaitan dengan dugaan pelecehan seksual tersebut, pada hari yang sama, yaitu Jumat (27/12/2019) MalangTIMES kemudian mencoba menghubungi Koordinator Malang Corruption Watch (MCW) M. Fahrudin. Fahrudin saat itu menjawabnya dengan mengirimkan sebuah data klarifikasi MCW berkaitan dengan kasus tersebut.

Di dalamnya terdapat enam poin yang sekaligus menanggapi rilis pers berjudul 'Pernyataan Sikap Bersama: Pecat, Berikan Sanksi bagi Pelaku Kekerasan Seksual dan Bersihkan Gerakan Antikorupsi dari Predator Seksual' dan beberapa statemen di media sosial yang terlebih dulu disampaikan ke publik.

"Kami juga sedang melakukan pendalaman, Mbak. Jadi, mohon ditunggu dan bersabar. Soalnya ini isunya sensitif," tulis Fahrudin saat menanggapi pertanyaan MalangTIMES.

Masih pada hari yang sama, sore hari MalangTIMES dan beberapa wartawan di Malang Raya memutuskan mendatangi langsung Wisma Kalimetro (markas MCW) dan melakukan klarifikasi. Di sana, Koordinator MCW M. Fahrudin dan Dewan Pengurus MCW Lutfi J. Kurniawan menemui wartawan.

Dalam konferensi pers yang dilakukan, Fahrudin saat itu membuka dengan membacakan pernyataan atau klarifikasi yang sebelumnya juga telah dikirim kepada MalangTIMES. Klarifikasi kemudian dilanjutkan oleh Lutfi J. Kurniawan yang saat itu juga sempat menghubungi Ketua Dewan Pengawas MCW Zulkarnain melalui sambungan seluler.

 Fahrudin menyampaikan, MCW sepakat mengutuk keras tindakan pelecehan seksual serta patut diberikan hukuman dan menjadi musuh bersama. Meski begitu,  pembuktian kebenaran tetap harus dilakukan dengan prosedural dan dengan skema yang jelas. Bukan dengan cara sporadis dan hanya berdasarkan informasi dari pihak lain yang sifatnya testimonium de auditu.

"MCW tidak berdiam diri. Justru kami proaktif untuk segera menyelesaikan permasalahan ini. Agar kami juga bisa mengambil langkah yang tepat pada terduga pelaku," katanya, Jumat (27/12/2019).

Koordinator MCW,M. Fahrudin (tengah)

Dia juga menegaskan jika saat itu MCW masih berusaha menghubungi kembali pihak yang mengatasnamakan diri sebagai pendamping. Namun memang masih belum menemui titik terang. Pasalnya, pendamping yang ia hubungi tengah berada di luar kota dan akan kembali ke Malang pada awal Januari 2020 mendatang. "Sampai hari ini saya masih komunikasi dengan pendamping, dan yang bersangkutan masih di luar kota," tambahnya.

Fahrudin  menegaskan jika upaya bertemu dilakukan untuk mempertajam kronologi yang terjadi sebenarnya mengingat saat ini informasi beredar begitu liar melalui media sosial. "Kami berusaha bertemu pendamping langsung dan menyampaikan sejumlah hal apa yang diinginkan pendamping dan korban karena itu hal yang penting," tambah Fahrudin.

Dia juga menyampaikan bahwa MCW masih melakukan klarifikasi dan pendalaman. Sebab, ada ketidaksesuaian atas sejumlah fakta yang disampaikan selama ini. Dia juga menyampaikan jika secara kelembagaan MCW menganut asas praduga tak bersalah.

"Kami tidak dalam posisi melindungi atau membela diri. Dalam hal ini korban harus dilindungi. Itu sebabnya kami terus menggali data lebih jauh," ungkapnya.

Sementara, Dewan Pengurus Malang Corruption Watch (MCW) Lutfi J. Kurniawan menyampaikan bahwa dia mendapat laporan atas dugaan pelecehan seksual itu pada Selasa (24/12/2019). Laporan secara tertulis itu diterima MCW menjelang waktu Magrib atau sekitar pukul 17.00 WIB.

Sebelum menerima pengaduan secara formal, Lutfi mendapat pesan singkat WhatsApp dari seorang yang kini menjadi pendamping korban. Dalam aduan tersebut, pendamping menyampaikan  ada dugaan tindak kekerasan seksual oleh salah satu volunteer MCW.

Setelah mendapat laporan, ia menyarankan pihak pendamping menyusun kronologi dan bukti kejadian sebenarnya. Kemudian pendamping membuat rincian kronologi tersebut, lalu mengirimkan ke MCW secara resmi.

"Dan kami tidak diamkan surat itu. Kami langsung bergerak. Semalam, Kamis (26/12/2019) kami dari dewan pembina, dewan pengawas, dewan pengurus, dan badan pekerja rapatkan itu," tambahnya.

Lebih jauh Lutfi saat itu juga menyampaikan bahwa MCW saat telah membentuk tim khusus untuk memperdalam kasus dugaan pelecehan seksual tersebut. Tim tersebut diambil dari internal MCW dan melibatkan mediator eksternal. Tim bertugas memperdalam kasus yang hangat diperbincangkan publik tersebut. "Ada tim kecil yang dibentuk untuk menyelesaikan kasus ini," jelas dia.

Dia menegaskan, pelibatan tim khusus disepakati dari hasil rapat yang dilakukan bersama pada Kamis (26/12/2019) malam. Sebab, pengambilan keputusan MCW selama ini harus melalui kesepakatan yang dilakukan dengan melibatkan dewan pembina, dewan pengurus, dewan pengawas, dan badan pekerja.

Di sisi lain, Ketua Dewan Pengawas MCW Zulkarnain saat itu menyayangkan pemberitaan yang disampaikan melalui media sosial berkaitan dengan dugaan kasus kekerasan seksual tersebut. Sebab, informasi yang diedarkan dinilai cenderung tak melalui proses kroscek di lapangan sehingga memunculkan opini liar di lingkungan masyarakat karena informasi yang beredar menggunakan tusi pemerkosaan.

"Padahal yang berhak menentukan perbuatan sekiranya kriminal atau tidak adalah penegak hukum. Dan kabar ini ditanggapi secara liar seolah kami membiarkan," kata dia.

Klarifikasi MCW yang kemudian diberitakan media itu kemudian mendapat respons dari publik dan para pendamping. Klarifikasi tersebut banyak menuai pro dan kontra di dunia maya. Hingga pada akhirnya, Sabtu (28/12/2019), pendamping korban, Dina Putri Pratiwi, menyatakan sikap dan melakukan konferensi pers di salah satu kafe di Kota Malang.

Dalam konferensi pers tersebut, Dina didampingi oleh salah seorang yang bersolider atas kasus dugaan pelecehan tersebut. Namanya Wahyu. Dalam penjelasannya, Dina pertama menyampaikan kondisi terkini kedua korban yang tengah tidak stabil atau down.

"Tiga hari terakhir, korban Y dihubungi pelaku. Kemarin (Jumat, 27/12/219) korban X dihubungi koordinator MCW untuk bertemu. Terus hubungi korban berarti nggak ada perspektif perempuan atau perspektif korban. Padahal mereka selalu bilang memiliki perspektif korban," ucap Dina.

Lebih jauh Dina menyampaikan, dugaan kekerasan seksual tersebut terjadi dalam relasi hubungan asmara atau pacaran. Proses awal kenalan korban  X adalah saat X dalam tugas mencari data di MCW untuk memenuhi tugas. Sementara awal perkenalan korban  Y adalah saat Y bertugas mencari data atau melakukan wawancara. Posisi Y merupakan anggota pers mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Malang.

Dina menyampaikan, langkah yang diambil saat ini adalah mencari keadilan bagi kedua korban. Sebelum memilih mencari keadilan melalui media sosial, ia bersama tim terlebih dulu telah berkomunikasi dengan MCW sejak awal Desember. Namun tuntutan yang disampaikan tak pernah terselesaikan dalam beberapa kali proses mediasi.

"MCW sebagai lembaga kami nilai harusnya mampu memberi keadilan dan ruang yang aman bagi perempuan. Itu mengapa kami lebih dulu mendatangi MCW," terangnya.

"Kami nggak menjatuhkan lembaga. Kami ingin berikan refleksi kepada MCW untuk bertanggungjawab menciptakan ruang yang aman. Ini juga jadi shock therapy untuk LSM mana pun," tambahnya.

Perempuan berambut pendek ini menyampaikan, mediasi telah beberapa kali dilakukan dengan MCW. Namun saat ini pihaknya masih belum mengetahui kapan akan kembali melakukan mediasi. Pasalnya, kondisi kedua korban sedang sangat down.

Sementara berkaitan dengan adanya rencana kasus dugaan pelecehan tersebut dibawa ke ranah hukum, Dina menjelaskan  saat ini kedua korban belum berpikir untuk mengambil langkah tersebut. Sebab, permintaan kedua korban adalah pemulihan psikis dan permintaan untuk memberhentikan terduga pelaku AF dari MCW.

"Permintaan korban adalah resistusi dan pelaku AF dikeluarkan dari MCW. Saat ini belum ada upaya untuk ke jalur hukum," kata dia.

Lebih jauh Dina menyampaikan, dia bukan dalam posisi mengenal kedua korban. Awal perkenalannya dilakukan saat korban  X mengirim pesan singkat kepadanya melalui delivery massage (DM) di Instagram. Saat itu, korban X menceritakan pengalamannya mendapat pelecehan dari AF. "Alasan X DM saya karena X mengetahu saya dekat dengen pelaku AF," tambahnya.

Cerita itu kemudian ditindaklanjuti oleh Dina dan kemudian X sepakat untuk dilakukan advokasi dalam penyelesaian masalah tersebut. Kemudian Dina dan tim pendamping menemui pihak MCW dan membuat laporan sesuai prosedur yang ditetapkan. "Dan setelah mediasi ketiga, korban Y menghubungi saya dan bercerita mengalami perlakuan yang sama dari AF," urai Dina.

Dia juga menegaskan jika saat ini dia tidak dalam posisi lembaga mana pun. Pergerakannya sebagai pendamping dilakukan secara independen atau mandiri bersama rekan-rekannya. Sementara pendampingan yang ditawarkan WCC Dian Mutiara Malang sebelumnya ditolak oleh korban dan pendamping.

"Korban Y dua hari lalu konseling dengan WCC. Dan korban mengaku kurang nyaman. Maka kami putuskan untuk tidak didampingi WCC," tambahnya.

Saat ini, langkah yang akan diambil pendamping adalah mencari psikolog yang cocok dan tepat bagi kedua korban. Sementara  proses mediasi dan jalur hukum masih belum diambil sampai saat ini. "Kami proses pemulihan dulu. Untuk mediasi dan jalur hukum sepertinya belum," ungkapnya.

Sampai diturunkannya berita ini, MalangTIMES masih berusaha menghubungi terduga pelaku AF untuk mengetahui lebih jelas terkait setiap tuduhan yang diberikan kepada dirinya.