Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

Api Menepi, Kita Masih Sepi

*dd nana

(1) 

Kalender di ruang tamuku mengantuk berat

matanya terlihat mulai mengatup

aku ingin rebah, istirah, menguapkan lelah

ucap matanya yang meredup.

Angka-angka hitam dan merah yang diseretnya

sepanjang ratusan bilangan telah meringkuk

dalam balutan kisah-kisah membosankan

yang sekuat tenaga dienyahkan sebelum tidur.

Sesekali izinkan aku melupakan, ucapnya lagi 

dengan mulut menguap dan mata yang mulai terkatup.

Aku yang memberi api pada setiap angka

termanggu, kalender di ruang tamu telah bulat

mengakhiri ceritanya.

Pintu mengirim bunyi dengan ketukan bernada

sedang kalender, kulihat mulai masyuk dengan istirahnya

apiku meredup menuju tepi

Kau ingin masuk sepi, tanyaku gamang

menjawab ketukan di pintu rumahku

hanya sunyi bergulung-gulung 

sebelum api yang kutitipkan pada angka-angka kalender

redup dan akhirnya padam.

"Sesekali izinkan aku melupa."

(2)

Tuhan mencipta api

sebelum kita mengenal hujan

yang mengalir dan mengalirkan segala aksara

pada apa yang kau sebut puisi

pada segala yang membuat kita menggigil.

Tuhan juga menakarnya

agar kita tak jadi bara dan lupa

pada segala yang memberi cahaya 

dan rasa hangat tersembunyi nyeri

awal kita mengenal rintik hujan

pada kota yang menyuburkan kata

pada mata yang menyimpan air mata.

Di luar hujan mengajarkan sepi 

pada setiap dada yang terbuka.

"Kenali gigilnya agar api yang menepi tak ditinggalkan cahayanya."

(3)

Hujan di matamu menemukanku

yang sembunyi pada tumpukan puisi

yang membuat dadaku masih saja nyeri

Mungkin itulah yang disebut cinta

(4)

Kita saling menakar raga

akhirnya hujan pula yang menghanyutkannya

pada kepurbaan yang kita sebut laut.

Dimana kisah-kisah tak lagi bisa berziarah

mengurapi raga kita yang dahaga

dan gigil di pojok kamar yang mulai ditinggal

cahaya.

Api menepi dan aku masih saja sepi.

*hanya penikmat kopi lokal