Ilustrasi anak membaca. (Foto istimewa)
Ilustrasi anak membaca. (Foto istimewa)

Selama ini, banyak orang tua yang suka menentukan buku bacaan anak. Banyak pula orang tua yang melarang anak membaca komik atau serial bergambar. Padahal, paradigma yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana cara agar anak mencintai membaca.

Hal ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nadiem Makarim belum lama ini. Dikutip dari web resmi Kemdikbud, kata Nadiem, harus ada perubahan paradigma mengenai buku bacaan anak.

“Selama ini kita suka menentukan anak itu harusnya baca apa padahal sebenarnya paradigma yang lebih penting adalah bagaimana cara agar anak itu mencintai membaca. Jadi sebenarnya harus child driven. Anak harus ditanya ingin baca buku-buku mengenai apa? Mengenai karakter-karakter favorit mereka, superhero favorit mereka, komik-komik favorit mereka,” paparnya.

Jadi, sama sekali tak masalah anak suka membaca komik ataupun buku-buku yang mengandung karakter superhero favorit mereka. Apapun formatnya, kata Nadiem, yang paling utama adalah anak cinta membaca buku. 

Lantas bagaimana jika anak belum bisa membaca? Menurutnya, jika anak belum bisa membaca diajak untuk membalikkan halaman-halaman buku sembari dibantu membacakan. Buku bergambar bisa jadi pilihan. 

Yang terpenting, anak-anak bisa mengikuti gambar-gambar yang dia sukai. "Paradigmanya dulu yang diubah, harus child driven artinya semua dimulai dari anak dan orang dewasa harus mendengarkan anak," tegasnya.

Nadiem juga menegaskan bahwa tantangan meningkatkan kegemaran anak dalam membaca bukan hanya soal teknis. Melainkan lebih pada esensi membaca untuk kesenangan. Jadi literasi bukanlah tantangan untuk membaca dalam arti gramatika kebenaran membaca, menulis, dan lain-lain. Melainkan bagaimana agar setiap anak mencintai buku,” imbuhnya.