Tim pembuat aplikasi SIPINO. (Foto istimewa)
Tim pembuat aplikasi SIPINO. (Foto istimewa)

Tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap obat-obatan tampaknya harus menjadi perhatian serius. Pasalnya, beberapa obat-obatan resmi yang dijual bebas di pasaran masih memiliki informasi yang kurang.

Beberapa di antaranya sudah terdapat informasi namun jarang penggunanya membaca komposisinya. Hal ini dilatari beberapa alasan, seperti tulisan informasi berukuran terlalu kecil sehingga sulit untuk dibaca.

Hal ini pun direspons mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk membuat aplikasi SIPINO (SIstem Pintar INformasi Obat), sebuah sistem translator informasi obat hanya dengan memindai gambar kemasan (scan packaging).

Aplikasi berbasis android besutan Oktario Aldila Fachri, Kharisma Muzaki Ghufron, dan Rahmah Hutami Ramadhani ini dibuat untuk mendukung masyarakat melek literasi kesehatan.

“Teknologi untuk menunjang pembuatan aplikasi ini adalah pada proses penangkapan citra gambar dengan menggunakan teknologi optical character recognition (OCR) yang kemudian diterapkan pada perangkat ponsel pintar android melalui tensorflow, sebuah perangkat lunak kerangka bantu untuk pengolahan gambar dari hasil penangkapan citra yang didapat dari perangkat ponsel,” beber Oktario.

Menurut Oktario, literasi kesehatan umumnya dikaitkan dengan kemampuan membaca dan memahami resep obat. Sementara hasil penelitian yang mereka temukan menyebutkan bahwa tingkat literasi kesehatan masyarakat di Indonesia masih rendah.

Dengan tingkat literasi kesehatan yang rendah, masyarakat cenderung sembarangan mengonsumsi obat-obatan tanpa tahu efek yang bakal ditimbulkan.

“Untuk mendukung peningkatan literasi kesehatan dan produk-produk terkait obatan-obatan di Indonesia, dapat dilakukan dengan penyampaian informasi secara mudah dan cepat menggunakan menggunakan informasi yang sudah didapatkan melalui web resmi milik lembaga negara, yaitu Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Aplikasi kami mempermudahnya,” paparnya.

Secara umum, kata Oktario, di situs pom.go.id terdapat beberapa atribut yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi mengenai obat berdasarkan nama produk. Beberapa atribut yang ada yaitu komposisi beserta deskripsinya, bentuk kesediaan, masa berlaku dan tanggal terbit. Di substansi komposisi terdapat informasi detail mengenai informasi komposisi. Dari sinilah informasi yang akan ditampilkan pengguna.

“Banyak sekali orang telah menggunakan smartphone sebagai alat yang membantu kehidupan sehari-hari. Ini adalah peluang untuk mengembangankan informasi terkait obat-obatan agar mudah diakses oleh masyarakat dengan mengintegrasikan sistem informasi online milik BPOM yang dapat diakses secara publik dengan smartphone,” ungkap mahasiswa Program Studi Teknik Informatika UMM ini.

Selain menginformasikan jenis, komposisi, dan efek obat, aplikasi ini juga memastikan apakah produk obat-obatan yang sudah dijual bebas di pasaran sudah mengantongi izin dari BPOM.

"Harapannya, melalui sistem yang dibangun ini dapat meningkatkan literasi kesehatan di Indonesia yang bisa digunakan oleh masyarakat dengan mudah,” pungkasnya.