Suasana bedah buku Bait-Bait Tak Sudah di Coffee Times, Selasa malam (17/12) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Suasana bedah buku Bait-Bait Tak Sudah di Coffee Times, Selasa malam (17/12) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

 Menjadi tempat tongkrongan yang ramah bagi kaum muda dan mahasiswa, Coffee Times selalu menghadirkan beragam kegiatan. Kali ini, bertajuk Bedah Buku dan Malam Puisi yang digelar semalam (Selasa, 17/12) di kawasan Terminal Kopi Malang, Pasar Terpadu Dinoyo lantai 2.

Buku karya Anil Safrianza berjudul Bait-Bait Tak Sudah secara langsung dibedah dengan asyik dan santai. Para peserta yang hadir juga menikmati sajian acara sambil mencicipi menu-menu yang disediakan Coffee Times. Tak lupa pembacaan puisi dari peserta dan komunitas Gerilya Literasi semakin menyemarakkan suasana.

Bait-Bait Tak Sudah sendiri merupakan karya ke 2 dari Anil Safrianza. Berisi sekumpulan puisi karyanya yang membawa pembaca seakan mengartikan sebuah cinta yang tak kunjung usai.

"Kisah asmara yang tak pernah selesai. 
Berisi tentang kenangan-kenangan yang tak mau hilang, percintaan dan kasih sayang. Yang paling menarik mengangkat tema dengan membandingkan hati dan logika. Hati dan logika jarang sejalan, itulah yang jerap dirasakan hampir semua orang," ujar Anil.

Salah satu puisi yang paling menceritakan tentang buku ini ia sebut berjudul 'Tenggelam'. Suatu pesan yang menyiratkan suatu kenangan menjadi tempat bernaung dari hati yang pada akhirnya tersampaikan lewat air mata.

"Tenggelam, semacam saat kenangan menjadi tempat bernaung dari hati. Sedangkan kemudi keinginan dari zona patah hati dan masa lalu, Saat semuanya berakhir bisa disampaikan lewat air mata," imbuhnya.

Berikut bait puisi tersebut,

Tenggelam

"Kau laut
Dan aku laksana yang ilang arah
Layar cabiak, kemudi patah
Tenggelam dalam rindu-rindu yang basah
: di mata" 

Menghadirkan dua pembanding untuk membedah buku tersebut, karya Anil dinilai luar biasa. Seperti yang diungkapkan Ahmad Mustaqim, Mahasiswa Sastra Universitas Islam Malang (UNISMA). Buku karya Anil Safrianza dinilai berani menghadirkan romansa dalam buku dengan kondisi era millenial saat ini.

Menurut Ahmad, membuat karya sastra tentang romansa itu sulit. Karena seorang penulis juga harus memosisikan sebagai subjek dan juga sebagai objek. Kemudian cara mengeksplorasi diksi-diksi yang ada dalam karya. Sehingga pembaca tidak akan lepas dari apa yang sudah dituliskan dalam buku tersebut.

"Makanya sangat berani ketika ada antologi itu, ada kumpulan puisi yang berbasis romansa. Membaca puisi mas Anil ini seperti cinta yang tak pernah usai. Karena membahas cinta itu hal kompleks yang tak pernah selesai. Ini keberanian yang sangat baik, karena saya pribadi saja masih sangat meragukan cinta seperti apa yang harus dituangkan," ungkapnya.

Sementara itu, pembanding lainnya LY Misnoto, mahasiswa Matematika UIN Malang yang juga penikmat sastra menilai Bait-Bait Tak Sudah sebagai buku yang menarik. Yang akan sangat cocok bagi kaum millenial karena berbicara masalah hati, cinta, dan penyair.

"Ini menarik apalagi bagi kaum millenial, soal percintaan. Yang saya rasakan puisi menimbulkan benih-benih diksi. Pastinya pembaca akan mempunyai makna tersendiri saat membaca buku ini," paparnya.