Suasana saat membedah buku buku Aku, Kamu, dan Tuhan Kita di Coffee Times, Terminal Kopi Malang, Lantai 2 Pasar Terpadu Dinoyo, Lowokwaru, Malang, Sabtu (7/12/2019) malam.
Suasana saat membedah buku buku Aku, Kamu, dan Tuhan Kita di Coffee Times, Terminal Kopi Malang, Lantai 2 Pasar Terpadu Dinoyo, Lowokwaru, Malang, Sabtu (7/12/2019) malam.

Coffee Times kini menjadi tempat favorit bagi banyak kalangan untuk menggelar beragam kegiatan. Kali ini, Pesta Puisi yang diisi dengan pembacaan puisi dan bedah buku 'Aku, Kamu, dan Tuhan Kita' di kafe yang berada di Terminal Kopi Malang, Lantai 2 Pasar Terpadu Dinoyo, Lowokwaru, Malang, Sabtu (7/12/2019) malam.

Meski Kota Malang usai diguyur hujan, tak membuat semangat para pembicara dan pembaca puisi surut. Justru sejuknya udara membuat suasana makin gayeng dan syahdu. 

“Buku perdana saya ini dibedah di tempat yang memang banyak direkomendasikan oleh teman-teman. Banyak yang menyarankan di sini,” kata penulis buku ‘Aku, Kamu, dan Tuhan Kita’, M Alfiyan.

Ia menambahkan, pemilihan tempat itu dirasa memang asyik untuk dibuat berkumpul sambil bertukar pikiran. Selain itu juga cozy atau nyaman.

“Tempatnya asyik buat kumpul-kumpul dan ngopi di sini, dan enak untuk ngobrol sastra,” imbuhnya.

Dalam kegiatan itu, puisi-puisi dalam kumpulan berjudul ‘Aku, Kamu, dan Tuhan Kita’ itu dibahas tuntas. Buku karya mahasiswa Sastra Inggris Universitas Islam Negeri (UIN) Malang itu langsung dibedah oleh Lalas Ompu Abu Saleh, Sekretaris Jendral Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se Indonesia (IMABSII), dan Anwar Mas’ady, dosen Sastra Arab UIN Malang.

Tidak hanya membedah buku milik Alfiyan, namun ada penampilan spesial pembacaan karya. Di antaranya oleh Muhammad Jamal, Komunitas Sajak Lestari, Muhammad Shofiudin Alfaris, Zaenbe, Rizki Hidayatullah, LY Misnoto, Fahimatul Yusro, dan Rozi Jem.

Berikut salah satu puisi yang dibacakan.

 Aku, Kamu, dan Tuhan Kita

Tawamu menghadirkan hujan di padang tandus

Tutur katamu membawakan kesejukan pada kehampaan

Doamu menumbuhkan bunga pada tanah gersang

Lalu mengapa harus ada kesedihan

Bilamana rasa dalam hati kita sama?

 

Aku mencintaimu dengan segala kelebihanmu

Kamu mencintai dengan segala kekuranganku

Kita saling mencintai dalam jiwa

Sekalipun raga tak bisa bersama dalam mahligai

Tuhan kita

 

Buku yang dibedah, memiliki 105 halaman dengan 105 judul puisi di dalamnya. Yang di dalamnya merupakan kumpulan puisi-puisi romance dan kompilasi karya penulis selama 2-3 tahun terakhir.

“Sebenarnya ini tulisan lama. Lewat puisi jadi cara terampuh mengekspresikan pengalaman saya ini,” tambah mahasiswa semester 5 ini.

Dengan dibedah dan diluncurkannya karya itu, diharapkan bisa memberikan motivasi kepada masyarakat, bahwa karya seberapa pun bisa diekspresikan menjadi buku. Menurutnya, kumpulan puisi itu digarap selama 4 bulan sejak Maret hingga September 2019 lalu.

Sementara itu Sekretaris Jendral IMABSII Lalas Ompu Abu Saleh menambahkan, buku itu cukup menarik lantaran gaya bahasa yang mudah dimengerti dengan bahasa kekinian. “Puisi-puisi ini mudah diartikan. Kumpulan puisi ini cukup menarik dengan pengalaman kesehariannya yang juga dekat dengan keseharian pembaca, terutama yang mahasiswa," ucap Lalas.