Wakil Gubernur Jatim, Emil Elistianto Dardak (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elistianto Dardak (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Belakangan ini publik ramai membicarakan soal pencoretan atlet dari Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) SEA Games 2019 dari Kota Kediri, Jawa Timur lantaran dituduh tidak perawan. Kabar tersebut, rupanya telah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim).

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak menyatakan pihak Pemprov Jatim tengah mengusut permasalahan isu keperawanan yang menyebabkan seorang atlet dicoret dari Pelatnas SEA Games 2019. Ia menyebut, keadaan yang dialami oleh Shalfa Avrilla Siani yang dipulangkan lantaran isu keperawanan tidak sepantasnya menjadi konsumsi publik.

"Posisi saya, posisi Bu Gubernur sudah jelas, bahwa isu tersebut tidak sepantasnya menjadi konsumsi publik, terlepas dari kebenarannya. Apalagi menurut keluarganya itu ternyata salah. 
Katakan itu benar, kan itu bukan sesuatu yang boleh disampaikan ke publik apalagi kalau itu salah," ujarnya saat kunjungan ke Kota Malang belum lama ini.

Meski begitu, masalah tersebut tetap mendapat perhatian Pemprov Jatim. Bahkan, pihaknya juga sudah membentuk tim khusus untuk menelusuri terkait isu tersebut. Dengan harapan dapat memberikan solusi terbaik yang berpihak bagi kepentingan anak. "Ada (tim), bahkan Wali Kota Kediri sudah berkomunikasi dengan Gubernur soal ini," imbuhnya.

Mantan Bupati Trenggalek ini menegaskan, jika pihak Pemprov Jatim saat ini tengah berupaya mengusut kejadian tersebut secara tuntas. Hal itu guna menelusuri fakta yang sebenarnya terjadi, hingga menghebohkan publik.

"Ini yang kemudian kami dan Bu Gubernur (Khofifah) sudah meminta seluruh jajaran yang terlibat, termasuk berkomunikasi dengan KONI. Mencoba memastikan faktanya apa, dasarnya apa sih sampai bisa muncul isu ini juga dari siapa. Ini penting, jadi kita tidak gegabah dulu bergerak," jelasnya.

Lebih lanjut, ia meminta kepada semua masyarakat untuk menjaga kondisi psikologis sang atlet. Terlebih, anak tersebut merupakan salah satu putri di Jatim yang layak mendapat perlindungan.

"Kita tentunya harus menjaga suasana psikologis yang bersangkutan, karena ini adalah putri kita sendiri di Jatim. Tentu patut mendapat perlindungan dari kita semua," tandasnya.