Terdakwa kasus mutilasi, Sugeng Santoso (kiri)(Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Terdakwa kasus mutilasi, Sugeng Santoso (kiri)(Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

Sidang kasus mutilasi di Pasar Besar (14/5/2019), dengan terdakwa Sugeng Santoso memasuki persidangan kelima di Pengadilan Negeri (PN) Kota Malang (27/11/2019). Sidang kelima masih dengan agenda pembuktian alat bukti jaksa dengan menghadirkan saksi fakta yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Malang.

Untuk upaya menjerat terdakwa dengan dakwaan dua pasal, yakni pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan pasal 338 tentang pembunuhan biasa. Ancaman hukumannya 20 tahun penjara hingga hukuman mati. Untuk itu, JPU bakal menghadirkan 16 saksi dua diantaranya adalah saksi ahli.

JPU Kejari Kota Malang, M Heriyanto, mengatakan jika pada sidang kali ini, lima saksi dihadirkan. Lima saksi tersebut dari petugas keamanan Pasar Besar yang mengetahui pertama kali temuan tersebut dari laporan pedagang.

Dalam persidangan, kelima saksi tersebut memberikan kesaksian jika tak mengenal Sugeng secara langsung, namun mereka mengetahui jika Sugeng seringkali berada di Pasar Besar.

"Jadi mereka mengetahui ada potongan tubuh (korban mutilasi) dari dua orang pedagang. Kemudian itu ditindaklanjuti memang benar ada potongan kaki dan tangan kemudian mereka mengambil langkah untuk melaporkan ke Kepolisian. Dikembangkan lagi dari temuan itu kemudian ditemukan bagian kepala dan badannya. 

Dengan lima saksi yang hadir dalam persidangan, maka telah sembilan saksi yang memberikan keterangan atau kesaksian di hadapan majelis hakim. Sehingga saat ini,  tujuh saksi lagi akan dihadirkan guna memberikan keterangan, dengan harapan bisa menjadi pertimbangan hakim menjatuhkan dua dakwaan pada pelaku.

Dalam persidangan sebelumnya, pihak JPU telah menghadirkan empat saksi dalam kasus mutilasi Pasar Besar. Bahkan dalam persidangan sebelumnya tersebut, satu saksi sempat ketakutan dengan Sugeng karena sebelumnya pernah diancam oleh Sugeng karena permasalahan saksi.

Sementara itu, Kuasa Hukum terdakwa, yakni Andik dari LBH Peradi Malang mengatakan, jika dari keterangan saksi-saksi, pihaknya akan mencoba menggali kembali Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Kepolisian.

"Semua kan menjelaskan tidak mengetahui secara persis adanya pembunuhan. Ini kan tugasnya penasehat hukum untuk menggali lagi atau meluruskan. Apa yang disampaikan di BAP kita luruskan dan ternyata ada  hal yang perlu dikoreksi di sana, ada beberapa yang disangkal. Tapi prosesnya kita lihat nanti," pungkasnya.