Kawasan Balaikota Malang yang banyak ditumbuhi pohon Trembesi terlihat sangat sejuk (Arifina)
Kawasan Balaikota Malang yang banyak ditumbuhi pohon Trembesi terlihat sangat sejuk (Arifina)

Tingkat kepadatan penduduk, masifnya kendaraan, serta berkembangnya industri membuat udara Kota Malang makin sesak. Untuk mengurangi efek negatif polusi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang mewacanakan pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) di tiap wilayah kecamatan. 

Rencananya, ada lima lokasi di tiap kecamatan yang akan dikembangkan sebagai RTH. Kepala Bidang Tata Lingkungan Hidup DLH Kota Malang, Arif Tri Sastyawan mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan kepada Wali Kota Malang Sutiaji untuk membuat hutan kota di setiap kecamatan. "Laporan yang kami sampaikan pada wali kota, bahwa kami mengharapkan ada tambahan ruang terbuka hijau yang ada di Kota Malang," ujarnya.

Wacana tersebut, salah satunya muncul setelah ada imbauan dari pemerintah daerah terkait keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) dalam menjaga lingkungan. "Kami juga melaporkan ke wali kota bahwa kemarin kami dapat surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri juga berkaitan dengan penghijauan," tuturnya.

Pengembangan RTH itu, dilakukan agar setidaknya mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK) yang saat ini juga sangat diperangi oleh negara di seluruh dunia. "Paling tidak di tahun depan sudah ada perencanaan kami dari DLH selaku ujung tombak dari masalah penghijauan," ujar Trisas, sapaan akrab nya. 

Pihak DLH sangat berharap, Wali Kota Malang Sutiaji menyetujui pembukaan lahan baru untuk ruang terbuka hijau. "Rencana kami, minimal ada 5 lokasi di masing-masing kecamatan. Biar mengurangi dari polusi yang dihasilkan setiap harinya. Dan bisa mencapai target di tingkat nasional itu bisa mengurangi 30 persen atau bisa lebih GRK," katanya.

Saat ini, tingkat polusi di Kota Malang diimbangi dengan keberadaan vegetasi di jalur hijau perkotaan. DLH bersyukur karena jalur hijau yang ada saat ini, berupa vegetasi tanaman yang memiliki daya serap tinggi terhadap polusi.

Kepala Seksi Pemeliharaan Lingkungan Hidup DLH Kota Malang, Budi Heryanto menyebut bahwa wilayah yang kini dipimpin oleh Sutiaji ini masih relatif bagus karena jalur hijau yang ada memiliki daya serap yang cukup bagus. Sehingga, mampu menghasilkan O2 (oksigen) yang dibutuhkan masyarakat seumur hidup.

"Kebetulan di Kota Malang ini secara kuantitas tidak banyak, tapi terutama di jalur hijau memiliki tanaman dengan daya serap tinggi," ujar Budi kepada MalangTIMES.

Menurut Budi, saat ini jumlah vegetasi di Kota Malang masih dirasa memadai. Namun jika melihat banyak alih fungsi lahan, tentu lambat laut akan semakin berkurang karena hilangnya tempat hidup vegetasi. "Dikatakan kurang itu tidak, tapi kalau dilihat ya menurut saya kurang," katanya.

Mengapa bisa dikatakan kurang? Budi menjelaskan bahwasannya untuk menyerap karbon dan menghasilkan O2 tentu harus dilihat dari vegetasi tanaman yang ada saat ini.

Dalam ilmu lingkungan hidup, lanjut Budi, tanaman yang paling bagus menyerap karbon adalah pohon Trembesi. Meskipun pada umumnya, seluruh tanaman hijau mampu menyerap karbon. Pohon Trembesi sendiri cukup banyak ditemui, misalnya di seputar Alun-Alun Tugu Kota Malang. 

Saat ini, menurut Budi, pihak DLH fokus pada upaya pengembangan. Agar ke depan, Kota Malang kembali menjadi wilayah yang memiliki hawa sejuk.

"Kalau untuk menyerap karbon, dilihat dulu dari vegetasi tanamannya. Misal menanam satu tanaman yang mampu sangat banyak menyerap karbon dengan beberapa tanaman yang sedikit menyerap karbon. Tentu yang sedikit menyerap karbon akan kalah," ungkap nya.

Meski begitu, Budi tetap menyarankan agar semua pihak bisa membantu meringankan beban pemanasan global dengan menanam tanaman apapun itu. Ia menambahkan bahwa logika sederhananya jika seluruh masyarakat Kota Malang bisa menanam tanaman tentu akan semakin banyak O2 yang dihasilkan.