Nanik menunjukkan produk daging unggas bumbu ungkep.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Nanik menunjukkan produk daging unggas bumbu ungkep.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Bisnis kuliner masih menjadi sektor favorit untuk digarap oleh banyak orang yang ingin memulai usaha. Selain pasarnya yang besar dan menjanjikan, nilai investasi yang dibutuhkan untuk membangun usaha ini relatif bersahabat di kantong. Sehingga masih banyak menarik peminatnya untuk menggeluti bisnis ini. 

Salah satunya adalah bisnis daging unggas bumbu ungkep yang digawangi PT Jatinom Indah, salah satu perusahaan peternakan terbesar di Blitar. Menangkap perkembangan pola hidup yang semakin instan di kalangan masyarakat, menjadikan PT Jatinom Indah memberanikan diri mengembangkan sektor usaha ini pada tahun 2018. Mengusung brand usaha Ayam Wakaka, Kalkun Wakluk-Kluk dan Bebek Wakeke, produk tanpa bahan pengawet ini telah mampu menembus pasar luar pulau jawa.

“Produk ini untuk masyarakat yang suka dengan makanan instan, karena sekarang kan banyak orang sibuk, wanita karier. Jadi kita ciptakan produk-produk yang praktis, yang bisa langsung dikonsumsi tanpa bahan pengawet,” ungkap Nanik Andriani selaku Kepala Bagian Divisi Frozen Food PT Jatinom Indah kepada BLITARTIMES, Rabu (13/11/2019).

Nanik merupakan orang di PT Jatinom Indah yang membuat kreasi produk olahan daging unggas bumbu ungkep ini. Dia mengaku mengembangkan produk ini setelah mengikuti pelatihan olahan susu dan daging dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang digelar oleh Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar.

“Saya ikut pelatihan di BBPT Batu dan beberapa pelatihan lain, termasuk pemasaran kita juga diberikan pelatihan,” paparnya.

Menurut Nanik, PT Jatinom Indah selaku perusahaan memberikan kebebasan dan dukungan terhadap produk yang ia kreasikan. Untuk pemasaran, pihak marketing aktif menawarkan produk ini mulai dari warung-warung, perkantoran, sekolah, koperasi dan toko-toko. Hasilnya pun positif, produk ini menembus pasar luar pulau, di antaranya Bandung, Tasikmalaya dan Lombok.

“Kita juga lakukan pemasaran online, dan Alhamdulilah kita juga difasilitasi Dinas Peternakan dan Perikanan untuk ikut pameran, produk ini semakin dikenal,” tukasnya.

Dijelaskan, tanpa bahan pengawet produk ini bisa tahan hingga 4 bulan. “Kita gunakan kunyit dan rempah-rempah seperti ketumbar, bawang putih, jinten dan kayu manis. Kunyit ini pengawet alami,” lanjut dia.

Nanik mengklaim, beberapa kelebihan produknya dibanding kompetitor lain adalah harga jual pada konsumen yang bersaing, namun memiliki rasa yang dijamin kelezatannya dan sehat untuk dikonsumsi. Selain itu, daging unggas ungkep kemasan dibuat sendiri dengan menggunakan bahan baku berkualitas tinggi dengan pengemasan produk yang higienis dan premium.

Sebelum dikemas, daging unggas itu dimasak lebih dulu dihilangkan lemak-lemaknya. Kemudian dicampur dengan bumbu sampai empuk. Setelah matang dan dingin, daging dipacking dan dimasukkan ke dalam freezer.

Untuk kalkun ungkep dijual dengan harga Rp 40 ribu per kemasan, bebek ungkep Rp 38 ribu dan bebek 39 ribu.

“Ini masih dalam tahap awal, dalam perhari kita produksi 50 pcs, dikerjakan oleh 5 karyawan. Untuk ayam dan bebek ini ukurannya satu ekor, kalau kalkun tidak karena ukurannya besar. Produk ini sehat karena bumbu seluruhnya rempah-rempah,” terangnya.

Lebih dalam Nanik berharap ke depan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Blitar terus memberikan pendampingan dan pembinaan kepada masyarakat di sektor olahan susu dan daging. "Saya sebagai masyarakat dan pelaku usaha berharap terus ada program pembinaan dari dinas. Potensi Kabupaten Blitar di sektor peternakan ini besar sekali, dengan pembinaan yang terprogram diharapkan muncul wirausaha-wirausaha baru dan terwujud masyarakat yang sejahtera,” pungkasnya.(kmf)