Diskusi Publik tentang R. Sastrodikoro di Aula DPC PDI Perjuangan (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)
Diskusi Publik tentang R. Sastrodikoro di Aula DPC PDI Perjuangan (Foto : Moch. R. Abdul Fatah / Jatim TIMES)

Nama Bupati Lumajang R. Sastrodikoro yang menjabat sebagai Bupati Lumajang dari tahun 1948 sampai 1959 adalah sosok aktivis muda yang perjalanan hidupnya penuh dengan perjuangan untuk melawan Belanda. Bahkan waktu itu Belanda menjadikannya sebagai target untuk ditangkap yang memaksa Satrodikoro keluar dari Lumajang dan menjadi buruh pabrik. 

Di Lumajang nama R. Satrodikoro diabadikan sebagai nama jalan di dalam kota Lumajang. Sastrdikoro lahir di Jepara pada tahun 1.900. Usai menyelesaikan Noormal School, Sastrodikoro menjadi seorang guru namun atkiv dalam pergerakan Budi Oetomo. 

Dalam diskusi publik tentang R. Sastrodikoro sebagai sosok nasionalis dari Kabupaten Lumajang yang digelar oleh Badan Kebudayaan Nasional (BKN) DPC PDI Perjuangan Lumajang pada hari ini, Minggu (10/11) terungkap banyak sejarah perjuangan R. Sastrodikoro sebelum kemudian menjadi Bupati Lumajang.

Mansur Hidayat, sejarawan asal Lumajang dalam kesempatan ini mengatakan, semangat juang Satrodikoro dinilai Belanda sebagai ancaman besar. Maka pada tahun 1926, Sastrodikoro kabur dan berpindah-pindah di berbagai kota dan sempat menjadi uruh pabrik gula di Probolinggo. 

"Dari Probolinggo, R. Sastrodikoro kemudian berpindah ke Kencong Jember. Sastrodikoro pindah karena aktivitasnya dicurigai Belanda. Di Kencong inilah Sastrodikoro kemudian bertemu dengan Imam Suja'i, Slamet dan Supi'i," kata Mansur Hidayat. 

Jadi Wartawan 

Karena bertemu dengan teman seperjuangan, Sastrodikoro kemudian mendirikan sejumlah lembaga, diantaranya Persatuan Bangsa Indonesia (PBI)) mendirikan Majalah bernama Suara Desa. Tulisan-tulisan Sastodikoro yang mengunkap sisi gelap nasib buruh di perkebunan Belanda, membuat Belanda marah dan menangkapnya pada tahun 1934 dan dijebloskan ke penjara. 

Dipenjara selama 4 bulan tak buat Sastrodikoro patah semangat. Pada tahun 1938, Sastrodikoro kembali membuat lembaga dengan nama Rukun Tani dan membuat pasar malam. Pada tahun 1942, ketika Jepang menguasai Indonesia, para pejuang banyak yang menjalin hubungan baik dengan Jepang, termasuk Bung Karno dan Bung Hatta. 

"Saat itu lah Sastodikoro yang semula menjabat sebagai Ketua Hookookai Lumajang dan mendapat kepercayaan sebagai patih di Pasuruan. Sedangkan Lumajang waktu itu dipimpin oleh Bupati Abu Bakar," jelas Mansur Hidayat kemudian. 

Ketika Abu Bakar ditarik ke Karisidenan Malang, Sastrodikoro kemudian ditunjuk sebagai Bupati Lumajang pada tahun 1948 dan memimpin Lumajang sampai tahun 1959. Dalam masa kepemimpinannya, Sastrokoro yang dikenal sebagai kelompok nasionalis berhasil menjadikan PNI menang dengan suara terbanyak pada tahun 1955, disusul oleh Partai Nahdlatul Ulama. 

Mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati Lumajang, R. Sastrodikoro kemudian menjadi Konstituante dan menjadi anggota MPRS/DPRS sampai meninggal pada tahun 1966. Sastrodikoro dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Lumajang yang meninggalkan sejumlah perjuangan dan jasa bagi masyarakat Lumajang kala itu.