Proses pembuatan rebana di tempat Soleh.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Proses pembuatan rebana di tempat Soleh.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)



Ide kreatif dan kejelian membaca peluang bisnis, dilakukan warga Blitar. Sehingga keinginan untuk meningkatkan ekonomi terus memacu semangatnya untuk lebih baik. Seperti yang dialami oleh Soleh (67), mantan pekerja serabutan yang kini sukses menjadi pengrajin alat musik rebana.

Pengrajin asal Dusun Sekardangan, Desa Papungan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar ini, menekuni pembuatan alat musik rebana sejak 1980 lalu. Berkat kegandrungannya terhadap musik rebana dan selawat, Soleh belajar menekuni cara pembuatan berbagai alat musik rebana mulai dari Kencer, Kaplak maupun darbuka.

Semula hasil produksinya kurang dikenal. Namun lama-kelamaan, hasil karyanya dikenal dan diakui oleh para pembelinya yang telah mengetahui kualitasnya. Meski penjualannya masih tradisional, justru membuatnya banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Rebana merupakan alat musik perkusi yang telah melekat begitu lama dan terkait sangat erat dengan seni tradisi Islam. Rebana biasa dipakai untuk mengiringi nyanyian-nyanyian dengan konten syair yang penuh dakwah, puji-pujian kepada nabi, selawat, dan nyanyian islami lainnya.

Alat musik religius yang dia produksi begitu ada pemesanan atau pembeli. Pesanannya pun hingga merambah ke sejumlah daerah luar Jawa, Sulawesi dan mancanegara. Dari karyanya itu, Soleh mengaku tidak pernah menghitung omset dan keuntungannya, hanya saja yang penting cukup untuk menggaji 3 karyawannya dan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saya awalnya ingin merubah nasib. Yang awalnya kerja serabutan kok tetep gak sukses, terus pingin berkembang usaha. Karena dasarnya suka sholawatan sama orang-orang suruh belajar bikin rebana. Alhamdulillah, mungkin berkah sholawat bisa berkembang dan banyak diminati,” tutur Soleh.

Ia mengaku, untuk membuat alat musik rebana tidak semudah membuat alat musik lainnya seperti kendang dan alat musik perkusi lainnya. Selain prosesnya cukup rumit, untuk menghasilkan suara rebana yang bagus diperlukan kayu dan kulit kambing yang berkualitas.

Menurutnya, untuk mendapatkan suara rebana terbaik, hanya ada dua jenis kayu yang biasa digunakan sebagai bahan pembuatan rebana, yakni kayu mahoni dan kayu mimbo. Sementara itu, untuk kulit yang digunakan harus kulit kambing betina yang sudah benar-benar dewasa.

"Produksi tergantung pesanan pembeli, kalau yang paling bagus ya pakai kayu mimbo. Sedangkan kulit kambing yang digunakan harus kulit kambing betina yang sudah cukup tua dan tidak pernah luka. Karena cara memainkan rebana itu dipukul dengan tangan maka kayunya harus keras dan kulitnya pun harus tipis dan kuat," ucap Soleh.

Jumlah produksi rebana dibuat dalam berbagai ukuran, dan dalam 1 set rebana terdiri dari 6-8 rebana. Ukuran diameter berbeda-beda berdasarkan pesanan, di mana waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu rebana sekitar tiga hari.

Untuk harga satu alat musik Rebana ini, Soleh membandrol harga bervariasi. Tergantung tingkat kesulitan proses pembuatan, bentuk serta ukuran. Untuk ukuran 8,25 inci, ia jual dengan harga mulai dari Rp 750 ribu – Rp 800 ribu. Sedangkan untuk ukuran 9 inci, dijualnya dengan harga Rp 1,5 juta rupiah per rebana.

"Alhamdulilah sekarang pesanan gak pernah sepi, jadi pesan ya harus sabar. Untuk pemasaran kebanyakan sudah langganan, mulai dari lokal hingga ke luar pulau seperti dari Toili, Sulawesi Tengah, Sumatera bahkan hingga ke Hongkong, Taiwan dan Kanada," tukasnya.(*)


End of content

No more pages to load