Bupati Malang Sanusi (berpeci hitam) berdialog dengan Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Wahyu Hidayat (dua dari kiri) terkait tangki septik biofil (DPKPCK for MalangTimes)

Bupati Malang Sanusi (berpeci hitam) berdialog dengan Kepala DPKPCK Kabupaten Malang Wahyu Hidayat (dua dari kiri) terkait tangki septik biofil (DPKPCK for MalangTimes)


Pewarta

Dede Nana

Editor

Heryanto


Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang, telah ancang-ancang untuk menyebarkan inovasi terbarunya dalam menguatkan program rumah layak huni bagi warga kurang mampu. Sekaligus wujud dukungan penuh dalam program menurunkan dan mencegah stunting di Kabupaten Malang.

Besutan DPKPCK Kabupaten Malang itu adalah infrastruktur septic tank atau tangki septik biofil yang sempat diperkenalkan dalam acara gerakan serentak membangun jamban atau Genta baja, beberapa waktu lalu di areal belakang pendopo Kabupaten Malang di Kepanjen.

Tangki septik biofil itu nantinya akan mulai dipadukan di tahun 2020 dalam rangka menyempurnakan program bedah rumah tidak layak huni (RTLH). Dimana, sejak beberapa tahun lalu, program bedah RTLH tak hanya merenovasi dan membangun bidang rumah saja, tapi juga dengan dibangunnya jamban sehat.

"Tahun depan, untuk pembangunan jamban sehat yang jadi satu paket dengan bedah rumah, kita pergunakan sistem septic tank biofil ini. Jadi ini akan semakin menyempurnakan program bedah rumah dari tahun lalu," ucap Wahyu Hidayat Kepala DPKPCK Kabupaten Malang, Kamis (7/11/2019).

Pembangunan infrastrukur tangki septik biofil itu, diklaimnya mampu menjadi solusi dalam persoalan stunting juga. Sehingga besutan DPKPCK Kabupaten Malang ini, selain mampu menyempurnakan program bedah rumah juga bisa menjadi alat untuk mendukung lingkungan hidup dan mencegah angka stunting terus meningkat.

Pasalnya, urai Wahyu, penggunaan tangki septik biofil memiliki kelebihan dibandingkan dengan jenis infrastruktur tangki septik konvensional yang selama ini dibangun.

"Yang pasti ramah lingkungan karena air limbah diolah dalam tangki septik dan bisa menjadi air bersih yang tak menjadi limbah bagi lingkungan atau air tanah. Selain itu biaya murah dan tahan lama," ujarnya yang juga menerangkan, untuk pengurasan tangki septik biofil adalah lima tahun.

Sedangkan biaya pemasangan satu infrastruktur tangki septik adalah Rp 3,5 juta. "Biaya itu nantinya sudah jadi satu dengan anggaran bedah rumah. Jadi RTLH warga kurang mampu benar-benar tuntas," imbuh Wahyu.

Penggunaan tangki septik biofil itu juga diproyeksikan akan mampu semakin menurunkan angka stunting di Kabupaten Malang. Dikarenakan salah satu pemicu stunting adalah sanitasi yang buruk. Angkanya pun terbilang besar, yaitu antara 15-20 persen stunting dipicu oleh faktor sanitasi yang buruk.

Bupati Malang Sanusi pun memberikan apresiasinya atas besutan DPKPCK Kabupaten Malang itu. Pasalnya, dengan angka stunting yang targetnya tahun ini bisa turun satu digit, keberadaan berbagai inovasi yang terintegralkan dengan berbagai program kerja, menjadi alat percepatan menurunkan angka stunting. Dimana, Sanusi mengklaim sampai saat ini angka stunting telah berada di angka 12 persen dari 28 persen diakhir tahun 2018 lalu.

"Kita terus support berbagai inovasi yang bermanfaat dan mendukung program Pemkab Malang. Seperti tangki septik dari Cipta Karya (DPKPCK, red) ini yang bisa jadi alat menurunkan stunting," ujarnya.
Sanusi juga menegaskan, stunting tak bisa hanya ditangani satu OPD terkait saja. "Tapi seluruh OPD harus bersinergi untuk itu. Insya Allah, dengan hal ini di tahun 2021 stunting sudah nol," pungkasnya.
 

 


End of content

No more pages to load