Daimil Asfa bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Hery S. dan dosen Fakultas Ekonomi Unisba Blitar.

Daimil Asfa bersama Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Hery S. dan dosen Fakultas Ekonomi Unisba Blitar.



Menjadi pengusaha sukses di usia muda bukanlah hal yang mudah. Apalagi, jika usaha itu dilakukan saat masih menjadi mahasiswa. Waktu yang dimiliki pun harus dibagi antara mengurus bisnis dengan tumpukan tugas-tugas kuliah. 

Namun, tidak bagi Muhammad Daimil Asfa, mahasiswa semester akhir Jurusan Manajemen Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar. Di sela-sela waktunya kuliah, pemuda yang akrab disapa Imil ini sukses menjalankan bisnis keripik telur yang dirintisnya sejak 2018 lalu.

Keripik telur mungkin masih asing di telinga kita. Telur yang memiliki tekstur cair diubah menjadi keripik yang renyah dan memiliki berbagai varian cita rasa.

Hal ini berawal dari keprihatinan Imil melihat peternak ayam petelur di lingkungannya, Desa Ariojeding, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, yang mengalami kerugian karena harga jual telur anjlok dan harga pakan yang semakin naik.

"Jadi, di desa saya mayoritas adalah peternak ayam petelur. Dari hal tersebut, saya menangkap suatu peluang di mana  telur yang jumlahnya sangat banyak itu ternyata dapat kita olah sehingga memiliki nilai jual yang semakin tinggi. Saya mempunyai ide membuat kripik yang terbuat dari telur," ungkap Imil saat diwawancarai BLITARTIMES (6/10/2019).

Mungkin keripik telur terdengar unik dan belum ramai di pasaran. Dari dasar itu, Imil mencoba eksperimen membuat keripik telur tersebut.

Ia menjelaskan, bahan utama telur ayam yang masih mentah dicampur terlebih dahulu antara putih telur dan kuning telur. Kemudian diberi bawang putih dan rempah-rempah lainnya untuk dicampur hingga merata.

Akhirnya diolah dengan campuran tepung terigu dan tepung tapioka. Barulah telur itu dicampur dengan rempah-rempah dengan bumbu seperti bawang bawang putih garam penyedap rasa dan lain-lain.

"Kami tambahin sedikit tepung untuk mendapatkan crispy. Kami tampil sedikit tepung ya mungkin komposisinya 30 persen tepung yang 70 persen telur. Kemudian kami goreng. Sudah kami goreng, tidak bisa sekali kering. Setelah kami goreng, itu kita oven," jelasnya.

Dari oven itulah, tekstur keripik memperoleh kekeringan dan rasa crispy. Setelah dioven, proses selanjutnya keripik masuk ke dalam spinner untuk meniriskan minyak, lalu keripik telur siap untuk diberi bumbu.

Setelah proses penirisan, selanjutnya Imil menambahkan bumbu untuk memperkaya cita rasa keripik telur buatannya. Ada enam varian rasa keripik telur buatannya. Mulai barbeque, ayam bakar, jagung bakar, pedas, original dan sapi panggang.

"Ide membuat keripik telur ini awalnya saya coba-coba sekitar setahun lalu. Yang ternyata bisa menjadi makanan ringan yang nikmat dan lezat. Apalagi sekarang banyak diminati banyak orang," ungkapnya.

Untuk memasarkan keripik telur buatannya, Imil mengemasnya dengan bungkus yang menarik dengan nama 'Bontot Egg Chips'. Harganya pun cukup murah. Per bungkus Egg Chips, Imil membanderol harga mulai Rp 11 ribu hingga Rp 30 ribu dengan dikemas plastik beberapa ukuran.

Untuk menjalankan usahanya berbisnis keripik telur ini, Imil dibantu dua  karyawan produksi dan pemgemasan. Sedangkan pemasarannya pun hanya melalui getok tular atau dari mulut ke mulut dan juga melaui media sosial.

"Jadi, melalui media sosial itu, kami bisa mudah memasarkan produk kami karena memang sasaran snack seperti ini tentu anak-anak muda. Ya untuk camilan ataupun makanan ringan untuk teman nongkrong. Melalui penjualan produk saya ini, alhamdulillah bisa untuk membantu untuk membiayai kuliah saya," ungkap Imil. 


End of content

No more pages to load