Siswandi, Suyadi alias Bobi, dan Sholeh Aziz tersangka jaringan pembuat dan penjualan obat ilegal dan membahayakan saat sesi rilis (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Siswandi, Suyadi alias Bobi, dan Sholeh Aziz tersangka jaringan pembuat dan penjualan obat ilegal dan membahayakan saat sesi rilis (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)


Editor

A Yahya


”Saya sendiri pernah mengonsumsi obat yang saya buat, tidak ada efek sampingnya,” itulah celetuk Sholeh Aziz warga Perum Tirtasani Estate, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang saat ditanya terkait rasa obat ilegal, yang menyebabkan dirinya dan kedua temannya harus mendekam di dalam penjara.

Perlu diketahui, tersangka Sholeh ini merupakan pelaku tunggal pembuatan obat dan jamu ilegal. Meski mengaku masih satu tahun beroprasi, nyatanya sudah ada ratusan jenis obat yang dia produksi.

Ratusan obat ilegal yang dianggap berbahaya saat dikonsumsi ini, mampu dibuat oleh pria 52 tahun itu menjadi berbagai merek. Di antaranya obat merek asam urat, obat kuat merek urat madu, esepuh, pasama, obat tiruan pilkita, obat anti elergi spesial, spesial flu tulang, obat sakit gigi cespleng, manjur asam urat super, alergi farmasi adi irawan, flu tulang sido waras, asam urat super, hingga obat sakit gigi sido waras. Obat-obatan tersebut dijual dalam bentuk pil, tablet, kapsul, dan berupa sirup (cair).

Sedangkan untuk obat berbentuk jamu, Sholeh juga memproduksinya menjadi berbagai merk. Yakni jamu dengan merk cap raja tawon, sido waras/plentu, sapu jagat, raja tawon, hingga pronojiwo.

Selain mahir membuat obat dan jamu, pria yang berusia lebih dari kepala 5 itu juga mampu meracik obat keras. Obat itu dipasarkan ke dalam berbagai merek dagangan, di antaranya obat keras merek mitamizole sodium, ampicilin, mefenamic acid, pil KB 1 Kombinasi, novacyciline, dan amoxicylin.

”Saya belajar meracik obat selama 1,5 tahun, dulu pernah bantu-bantu di apotik. Setelah keluar dari kerjaan, saya akhirnya nekat membuat obat sendiri. Sudah sekitar satu tahun ini saya membuat obat untuk kesehatan,” terang Sholeh kepada MalangTIMES.com saat ditemui disela agenda rilis, Rabu (6/11/2019).

Sholeh merasa tidak pernah kesulitan saat meracik obat. Misalnya saat meramu jamu untuk penyakit asam urat. Dirinya mengaku hanya memerlukan air mineral, cairan karamel, aroma salak, yang kemudian dipadukan dengan cita rasa mint. ”Agar obatnya berkhasiat, saya campur dengan paracetamol. Saya pernah mengonsumsi jamu asam urat yang saya buat ini, hasilnya ngefek. Lumayan berkurang rasa sakitnya, saya memang punya riwayat sakit ngilu di bagian persendian dan asam urat,” jelasnya.

Dijelaskannya, obat yang dibuat oleh tersangka ini, kemudian didistribusikan kepada temannya yang bernama Suyadi alias Bobi warga Dusun Prangas, Desa Klepu, Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Kabupaten Malang. Dialah yang berperan sebagai distributor.

Pria 49 tahun itu juga menjualnya kepada si pengecer yang bermama Siswandi (69) warga Jalan Janti Barat, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang. ”Obatnya kami jual ke pasar, selama saya membuat obat belum pernah dapat komplain dari pembeli,” tegasnya.

Meski demikian Sholeh mengakui jika obat yang dia buat memang tidak mengantongi ijin sama sekali. Mulai dari ijin edar, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), maupun perijinan terkait kesehatan. Tidak ada satupun berkas yang menyatakan jika obat yang dibuat Sholeh sudah sesuai dengan standart mutu kesehatan. ”Saya meracik obat dirumah, memang tidak ada ijinnya. Ijin jualan dan ijin usaha membuat obat juga tidak ada,” ujarnya.

Seperti yang sudah diberitakan, ketiga tersangka yang terlibat sebagai produsen dan penjual obat ilegal dan membahayakan ini, berhasil diringkus jajaran kepolisian Unit Reskrim Polres Malang pada Minggu (3/11/2019) lalu.

Dari tangan ketiga tersangka, polisi menyita ratusan obat berbagai jenis dan merek. Mulai dari obat berbentuk pil, kapsul, tablet, hingga berbentuk cairan, berhasil disita polisi.

Dianggap membahayakan lantaran tidak mengantongi izin resmi, petugas akhirnya menjerat ketiga tersangka dengan pasal 196 juncto pasal 197 Undang-undang nomor 36 tahun 2009, tentang kesehatan. Sedangkan ancamannya maksimal 15 kurungan penjara, serta denda senilai Rp 1,5 miliar.


End of content

No more pages to load