Suasana simulasi gempa di SDN Penanggungan Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Suasana simulasi gempa di SDN Penanggungan Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



"Gempa! Gempa! Sembunyi di bawah meja! Jauhi kaca! Jangan keluar sampai ada aba-aba!"

Begitulah teriakan salah satu guru di SDN Penanggungan tadi pagi (Rabu, 6/11/2019). Bersamaan dengan itu, sirine tanda bahaya lantang terdengar di seluruh lingkungan sekolah.

Para siswa pun sembunyi di bawah meja. Setelah sang guru memberi aba-aba, mereka pun berhamburan keluar ke halaman sekolah.

Sirine masih berbunyi tatkala sekitar 300 siswa berkumpul di titik evakuasi di halaman sekolah tersebut. Mereka terlihat melindungi kepala dengan tas masing-masing.

Ternyata, gempa tidak benar-benar terjadi. Mereka sedang melakukan simulasi tanggap bencana gempa dan puting beliung.

Seperti yang diketahui, tidak seorang pun bisa memprediksi kapan bencana melanda. Termasuk bencana gempa bumi dan puting beliung.

Datangnya bencana seringkali membuat panik, meski hal ini sebenarnya cukup wajar. Namun tidak bisa dipungkiri, justru kepanikan semacam ini kadang malah menimbulkan banyak korban jiwa.

Sebagai upaya untuk dapat mengenalkan para siswa akan apa tindakan yang harus dilakukan pada saat terjadi gempa dan puting beliung itulah Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mengadakan simulasi bencana tersebut.

Menurut data yang dihimpun BPBD Kota Malang, di tahun 2019 hingga awal November ini, sudah ada 20 sekolah yang memberi sosialisasi tanggap bencana.

"Jadi, 12 sekolah mengajukan mandiri dan 8 sekolah lain atas permintaan BPBD Kota Malang," ucap Kasi Kesiapsiagaan BPBD Kota Malang, Nur Asmi.

Dia mengungkapkan, masih banyak sekolah yang belum berkenan dikunjungi untuk melaksanakan kegiatan simulasi bencana ini lantaran kepadatan kegiatan belajar.

"Beberapa sekolah masih belum berkenan. Padahal simulasi bencana ini kan penting. Kita tidak tau kapan bencana akan datang," ungkapnya.

Asmi menargetkan, tahun depan, lebih dari 20 sekolah harus menerima pengetahuan akan tindakan jika terjadi bencana ini.

"Kami memang intens ke anak-anak karena daya tangkap mereka masih tinggi. Ketika mereka tahu sesuatu, mereka pasti akan membagikan ilmu pengetahuan ke orang sekitarnya," papar Nur Asmi.

Sementara, Kepala SDN Penanggungan Sumaji berharap, mitigasi bencana ini bisa dilaksanakan setiap tahun

"Harapannya kegiatan mitigasi ini bisa dilaksanakan setiap tahun lah," tukasnya.
 

 


End of content

No more pages to load