Tokoh Nasional  Haris Azhar, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai pemateri pertama dalam diskusi publik di Unikama (Humas Unikama for MalangTIMES)

Tokoh Nasional Haris Azhar, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai pemateri pertama dalam diskusi publik di Unikama (Humas Unikama for MalangTIMES)



Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar Diskusi Publik bertajuk Hak Asasi Manusia (HAM) dan Demokrasi di Indonesia. 

Hadir dalam kegiatan tersebut, 
tokoh nasional Haris Azhar, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) sebagai pemateri pertama dan Dr. (Cond) Andri Guktom, M.Phil sebagai pemateri kedua. 

Dalam kegiatan yang dimoderatori oleh Dosen Unikama Romadhon, M.Pd itu, 300 mahasiswa Unikama, antusias memadati gedung Auditorium Multikultural  (31/10/2019). Di hadapan 300 mahasiswa tersebut, Haris Azhar mengajak para mahasiswa lebih sadar dan lebih paham lagi mengenai HAM dan demokrasi di Indonesia.

“Anda semua harus bisa membedakan perkembangan HAM dan demokrasi di atas kertas secara institusional. Tidak otomatis mengakibatkan atau menciptakan situasi yang secara subtitusional melindungi hak anda,” jelas Haris.

Ia juga menegaskan, jika seorang mahasiswa harus bisa menciptakan perubahan-perubahan dalam hal positif dan memperjuangkan nilai dalam HAM maupun demokrasi.

“Jadilah mahasiswa yang memahami konteks, untuk itu kita harus merebut konteks. Kita menafsirkan teks berdasarkan konteks . Kita terjemahkan demokrasi melalui gerakan-gerakan perubahan,” tambahnya.

Sementara itu, Andre Babur Ketua MPM Unikama menambahkan, saat ini kondisi HAM dan demokrasi di Indonesia, sedang dalam kondisi kurang baik. Maka dari  itu pihaknya menginginkan mahasiswa untuk bisa menjadi agen-agen perubahan yang baik di masa depan.

“Kami tidak ingin di Unikama terjadi perpecahan dan perundungan HAM. Kami ingin mahasiswa yang berpendidikan dan intelektual bisa menjadi agen perubahan di masa depan,” ungkapnya.

Selain itu, ditambahkannya lagi, adanya perbedaan perbedaan harus dihadapi dengan penuh kedewasaan serta menyelaraskan untuk tetap memiliki satu tujuan.

“Seperti di Unikama adanya perbedaan agama, ras, suku, golongan, tetapi tetap akur dan damai. Ini merupakan hal yang positif, tidak ada ruang pemisah antar golongan, agama, ras, dan suku. Dengan begitu isu penegakan HAM bisa terjawab,” pungkas nya.


End of content

No more pages to load