Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia  saat menunjukkan barang bukti pembunuhan pasutri di Ngingas yang terjadi pada 8 November 2018 lalu. (foto : Joko Pramono/jatim Times)
Kapolres Tulungagung AKBP Eva Guna Pandia saat menunjukkan barang bukti pembunuhan pasutri di Ngingas yang terjadi pada 8 November 2018 lalu. (foto : Joko Pramono/jatim Times)

Polisi akhirnya berhasil mengungkap pembunuhan suami istri Didik dan Suprihatin di Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, yang terjadi 8 November 2018 lalu. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap dua tersangka, pembunuhan itu dilatarbelakangi masalah jasa heregistrasi STNK.

Kedua tersangka adalah pemuda yang sudah dikenal baik oleh korban. Mereka ialah Deni Yonatan Fernando Irawan (25) dan Muhammad Rizal Saputra (22). Keduanya juga berasal dari Dusun Ngingas, Desa/Kecamatan Campurdarat.

Nando -panggilan Deni Yonatan Fernando- sebelumnya meminta tolong kepada Didik yang membuka jasa kepengurusan STNK untuk mengurus STNK-nya. Namun setahun berselang, STNK yang dijanjikan tak kunjung selesai. Padahal, Nando sudah menyerahkan uang sebesar Rp 600.000 kepada Didik untuk mengurus STNK itu.

"Nando meminta tolong kepada Rizal untuk menemaninya menagih STNK kepada didik," ujar Kapolres Tulungagung, AKBP Eva Guna Pandia, Jumat (1/11/19).

Sesampainya di rumah Didik sekitar pukul 12.30 siang, Rizal menunggu di teras. Sedangkan Nando masuk ke  ruang tamu.

Di ruang tamu, Nando ditemui Suprihatin.  Saat itulah terjadi cekcok antara Suprihatin dan Nando. "Ada mungkin omongan yang menyinggung si Nando sehingga langsung dipukul kepalanya (Suprihatin)," ujar kapolres.

Suprihatin dipukul dengan menggunakan hiasan rumah berbentuk lampu dari marmer hingga pecah. Saat Suprihatin terjatuh, Nando langsung membentur-benturkan kepala Suprihatin ke tembok hingga meninggal dunia.

Mengetahui ada keributan di dalam rumah, Rizal yang awalnya duduk di teras masuk dan membantu Nando.

Tak ingin aksinya diketahui  orang lain, Nando dan Rizal lalu menuju kamar di bagian belakang rumah tempat  Didik tidur.

Didik langsung dipukul menggunakan kayu di bagian tengkuknya. Namun, Didik sempat terbangun dari tidurnya dan menangkis pukulan Nando menggunakan tangan kiri. "Korban (Didik) dipukuli hingga meninggal (di atas tempat tidur)," tuturnya.

Setelah melakukan pembunuhan terhadap kedua suami istri itu,  Rizal maupun Nando kabur ke Kalimantan untuk menghindari proses hukum. Keduanya diamankan dari perkebunan sawit di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.

Saat disinggung lamanya pengungkapan kasus ini hingga hampir satu tahun, kapolres mengungkapkan minimnya saksi menjadi kendala pengungkapan kasus ini.

Untuk mengungkap kasus ini, polisi kembali menginterogasi saksi-saksi yang pernah dimintai keterangan. Hasil  interogasi itu ternyata mengarah kepada dua nama pelaku yang saat itu berada di Kalimantan.

Tak ingin sasarannya lolos, Satreskrim Polres Tulungagung bergerak cepat menjemput kedua tersangka di Tanah Bumbu pada Selasa (29/10/19) lalu. Keduanya diancam dengan Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Dalam kejadian ini, polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa hiasan marmer untuk membunuh Suprihatin, karpet berlumur darah, besi yang menancap di kepala Didik! dan beberapa pakaian.