Suasana Skrining Hipotiroid Kongenital Dinkes Kota Malang di Gedung Kartini Malang, Rabu (30/10) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Suasana Skrining Hipotiroid Kongenital Dinkes Kota Malang di Gedung Kartini Malang, Rabu (30/10) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)



Kesadaran masyarakat akan kesehatan gizi pada anak dinilai masih kurang.

Hal itu bukan tidak mungkin menjadi salah satu penyebab kematian bayi baru lahir atau mengalami kecacatan. 

Di mana salah satu gangguan yang belum disadari masyarakat yakni mengenai penyakit Tiroid. 

Hal ini yang terus menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang, lantaran targetnya hingga tahun 2023 angka kematian dan kecacatan bayi harus berada di posisi nol (zero). 

Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) serta Ikatan Bidan Indonesia (IBI) digelar Skrining Hipotiroid Kongenital di Gedung Kartini Malang, Rabu (30/10).

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan kegiatan ini sebagai salah satu upaya dalam memberikan informasi dan pengetahuan bagi ibu. 

Sehingga kesadaran untuk pencegahan tiroid sejak dini, dengan di mulai dari dalam kandungan bisa dilakukan.

"Tingkat kesadaran di kita masih lema, padahal di 2023 itu harus nol (angka kematian bayi), upaya itu yang terus kita lakukan. Kita mulai dengan mengintervarisir, kita meyakinkan bahwa anak ketika masih dalam kandungan itu asupan gizinya gimana. Seandainya begitu lahir apa yang harus diberikan, itu terus harus ada pendampingan," ujar dia.
 


Melalui kerjasama dengan IBI dan IDAI beserta tim penggerak PKK yang rutin mengadakan Posyandu Balita maka semua kondisi ibu hamil dan bayi diharapkan dapat terkontrol dengan maksimal. 

Implementasi tersebut yang terus akan digencarkan untuk penanggulangan resiko bayi meninggal atau mengalami kecacatan.

"Ini juga akan berpengaruh pada penanggulangan stunting, biasanya kalau tidak dilakukan cek kesehatan dari awal hal itu besar kemungkinan terjadi. Di Jawa Timur baru beberapa titik saja yang melakukan skrining, Malang salah satunya, semoga ini nanti kedepan bisa meminimalisir itu," tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinkes Kota Malang Supranoto menjelaskan di samping sebagai program dari pemerintah pusat, detekso dini terhadap bayi baru lahir memang sangat diperlukan dalam mengantisipasi munculnya Tiroid. 

Apabila gejala atau deteksi dini tersebut terjadi, maka pengobatan dan pertumbuhan bayi jangka panjangnya dapat dilakukan dengan melakukan terapi.

"Jadi setiap bayi yang baru lahir diperiksa kadar tiroidnya. Kalau terdeteksi maka harus segera dilakukan terapi, hal itu salah satu pencegahan. Sehingga kalau dari awal sudah ada indikasi tersebut dan diobati, maka dalam masa pertumbuhan kemungkinan adanya kekurangan tiroid itu bisa diantisipasi," ungkapnya.


End of content

No more pages to load