Timbunan limbah di hutan produksi Perhutani
Timbunan limbah di hutan produksi Perhutani

Warga Desa Dawuan Sengon, Kecamatan Purwodadi Kabupaten Pasuruan digegerkan dengan bau busuk yang berasal dari tumpukan limbah padat di petak 6 Hutan Produksi milik Perhutani. Timbunan karung limbah ini diketahui milik pabrik pengolahan susu, Indolakto, Purwosari.

Menurut warga setempat, Reni, sekitar dua pekan lalu, sebuah truk mengangkut dan membuang limbah di kawasan hutan produksi milik Perhutani. Limbah yang terbungkus dalam karung sak ini menyebarkan bau busuk yang menyengat hidung.

Timbunan limbah di kawasan hutan ini ibarat menampar muka Perhutani sendiri. Karena pada kawasan tersebut, terpampang papan pengumuman dari Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan tentang larangan menggunakan limbah (wadah/tempat) bahan berbahaya dan beracun dalam kawasan hutan.

Asper Lawang Timur KPH Pasuruan, Dalih, mengakui bahwa pihaknya yang sengaja menimbun limbah padat pabrik susu Indolakto di kawasan hutan produksi. Ia berdalih, limbah-limbah ini tengah dijadikan eksperimen pembuatan pupuk organik yang dimanfaatkan untuk kebutuhan tanaman hutan.

“Kami sedang melakukan eksperimen pupuk organik yang berasal dari limbah susu. Kalau hasilnya baik, tumpukan limbah itu akan dipergunakan semua untuk pupuk organik. Saat ini kami sedang menunggu hasilnya,” kata Dalih.

Sementara itu, pihak Indolakto menyatakan bahwa pengiriman limbah dilakukan atas dasar permintaan dari Perhutani. Menurut Yasman, HRD PT Indolakto, limbah padat itu memang dapat dipergunakan sebagai bahan pupuk organik.

“Kami juga melayani permintaan petani tebu di Jombang yang memanfaatkan sludge (limbah padat) untuk pupuk organik. Sludge ini tidak mengandung bahan kimia dan berbahaya atau beracun,” kata Yasman.

Ditempat terpisah, Kepala Sub Seksi Pengelolahan Hutan Bersama Masyarakat (KSS PHBM) Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pasuruan, Margono, menyatakan bahwa eksperimen itu merupakan inisiatif dari Asper Lawang Timur. Hingga saat ini pihaknya belum menerima permohonan izin pengelolaan limbah untuk bahan pupuk organik.

“Kami belum menerima permohonan izin pemanfaatan limbah untuk hutan produksi. Perlu ada kajian lebih mendalam, apakah limbah itu berbahaya atau tidak untuk pemanfaatannya,” kata Margono.