Wali Kota Malang Sutiaji (berkacamata) saat melakukan tinjauan ke MIN 1 Malang, Jum'at (25/10) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Wali Kota Malang Sutiaji (berkacamata) saat melakukan tinjauan ke MIN 1 Malang, Jum'at (25/10) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)



Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Malang masih menjadi perbincangan publik terkait siswa-siswinya yang dikabarkan terjangkit penyakit Difteri. Meski telah mendapat tindakan cepat penanganan pengobatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang, rupanya kejadian tersebut cukup membuat masyarakat heboh.

Hal itu juga menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Untuk memastikan kejadian yang sebenarnya, Wali Kota Malang Sutiaji siang ini (Jum'at, 25/10) langsung melakukan tinjauan ke sekolah tersebut. Dalam hal ini, pihak Dinkes Kota Malang juga turut mendampingi.

"Saya mohon ini untuk mendinginkan situasi, karena di sini (MIN 1 Malang) sebetulnya Difterinya tidak ada," ujar dia.

Ia menjelaskan, dari data Dinkes Kota Malang selama 2019 ini dipastikan pengidap penyakit Difteri ada 6 orang dewasa. Dan hal itu juga telah sembuh. Sementara, yang terjadi di MIN 1 juga dipastikan hanya mengalami carrier.

"Di sini itu hanya carrier, pembawa kuman yang bisa jadi itu menular jika tidak segera ditangani," imbuhnya.
 


Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Aji ini juga mengurai kronologi kejadian yang dialami oleh siswa-siswi MIN 1 Malang. Dimana, awalnya salah satu siswa yang masuk dalam keanggotaan polisi kecil memang sedang sakit, dan ketika dilakukan pengecekan awal info dari laboratorium menunjukkan jika memiliki carrier. 

Lantaran khawatir akan menularkan kepada siswa lainnya, anggota polisi kecil tersebut menjalani pemeriksaan SWAB, ternyata kedapatan ada 10 siswa yang terindikasi carrier. 

"Malah ternyata yang awalnya di RS itu tadi malah negatif carrier. Malah teman lainnya yang kena. Karena ini juga terdengar wali siswa, maka permintaan semua menjalani tes laboratorium. Saat ini ada 228 siswa, itu pun juga masih tes awalnya saja ya, terindikasi carrier," jelasnya.

Dari pantauan MalangTIMES di lokasi, suasana keadaan sekolah MIN 1 memang lebih dalam kondisi pengantisipasian. Lalu lalang orang yang memasuki kawasan itu tampak memakai masker. Dari area gerbang juga disediakan masker siap ambil. Bahkan, aktivitas guru di sekolah terlihat sambil mengenakan masker.

Terkait meluasnya kabar di masyarakat, pria asal Lamongan ini meminta dengan tegas untuk persoalan tersebut tidak diperbesar lagi. Pihaknya juga mengimbau kepada wali murid dan masyarakat lainnya agar melakukan imunisasi Difteri untuk menguatkan imun anak sehingga tidak mudah tertular kuman dan penyakit.

"Kita perlu waspada tentang kesehatan anak, tapi jangan sampai sekolah dijadikan seperti hantu. Semuanya saya kira kita imbau bahwa imunisasi Difteri itu penting, untuk menjaga dan menguatkan imun anak supaya tidak gampang tertular kuman dan penyakit," tandasnya.


End of content

No more pages to load