Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander (berkopyah) saat menunjukkan barang bukti hasil sindikat pembobolan rumah di halaman Mapolresta, Kamis (24/10) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander (berkopyah) saat menunjukkan barang bukti hasil sindikat pembobolan rumah di halaman Mapolresta, Kamis (24/10) (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

 Sindikat pembobolan rumah berhasil dibekuk jajaran Satreskrim Polres Malang Kota. Mereka yang terdiri dari sindikat bergerombol hingga pribadi ini harus rela mendekam di balik jeruji besi.

Para tersangka ini yakni W (33), kemudian IS alias Beno (49), dan sindikat gerombolan K (43), SP (54), dan SG (59).

Sayangnya, nasib tidak mengenakan harus dialami IS (49), warga kecamatan Dampit Kabupaten Malang itu. Akibat melawan petugas kepolisian saat penangkapan ia harus terkena tembakan di kakinya. IS sendiri diketahui telah melancarkan aksi pembobolan rumah warga sebanyak 20 kali.

"Iya saya congkel rumah, ada juga yang saya masuki karena salah satu pintu rumah tidak terkunci. Hasil jarahan saya jual ke orang yang mau, kadang perorangan, kadang ke toko. Uangnya saya nikmati untuk keperluan sehari-hari dan pesta," ujar IS kepada awak media di halaman Mapolresta saat press release, sore ini (Kamis, 24/10).

Kapolres Malang Kota AKBP Dony Alexander menyatakan tersangka IS sementara ini diketahui melancarkan aksinya sendirian. Namun pihaknya hingga kini masih terus melakukan pengembangan penyelidikan lebih lanjut.

"Sesuai dengan informasi yang kita dapat IS sudah 20 kali melakukan tindak pidana tersebut. Namun di sini masih kita lakukan pengembangan. Ia melakukan perlawanan saat ditangkap, sehingga kami lakukan tembakan melumpuhkan," paparnya saat menggelar Press Rilis di halaman Mapolresta Malang.

Dari kejadian tersebut, polisi mengamankan barang bukti dari pelaku berupa perhiasan emas, laptop, HP, dan juga sepeda motor yang digunakan pelaku saat melancarkan aksinya.

IS sendiri dikatakannya seorang residivis. Modus yang digunakan saat melakukan aksinya dengan memanjat pagar rumah hingga menggunakan alat kunci lain. Sehingga tersangka dengan mudah dan leluasa masuk ke rumah korbannya.

"Yang jelas tersangka sudah melakukan monitoring target rumah yang akan disasar, apakah rumah itu kosong atau tidak. Sehingga para pelaku melakukan aksinya dengan terencana dan smooth, yang menjadikan masyarakat tidak melihat," imbuhnya.

Diketahui untuk tersangka W melakukan aksi pada 21 Agustus 2019 lalu di rumah FIA Jl Ikan Paus, Kecamatan Lowokwaru. Sedangkan IS aksi terakhir pada tanggal 1 Oktober 2019 di kawasan perumahan The Palm Residence, Kecamatan Kedungkandang.

Sementara 3 komplotan lainnya, K, SP, dan SG melakukan pencurian di pabrik cat Gadang Rejo Santoso Kecamatan Sukun pada 3 September 2019 lalu.

Pihak kepolisian masih terus melakukan pengembangan lebih lanjut kasus ini. Saat ini, semua tersangka terancam dijerat dengan pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan. 

"Ancaman hukuman pidananya selama 5 tahun penjara," tandasnya.