Kepala Disnaker Haris S. bersama jajaran staf dan peserta pelatihan pembuatan aneka kue.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Kepala Disnaker Haris S. bersama jajaran staf dan peserta pelatihan pembuatan aneka kue.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)



Sebagai upaya program peningkatan pemberdayaan masyarakat, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Blitar kembali menggelar bimbingan teknis (bimtek) atau pelatihan pembuatan aneka kue angkatan IV. Pelatihan ini dipusatkan di Local Education Center (LEC) Garum digelar selama empat hari, Senin-Kamis (21-24/10/2019).

Peserta kegiatan ini difokuskan kepada wanita yang belum bekerja dan pengusaha pemula. Pelatihan ini bersumber dari dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) rutin dilaksanakan setiap tahun oleh Disnaker Kabupaten Blitar).

Kepala Disnaker Kabupaten Blitar Haris Susianto, mengatakan, tujuan diadakannya pelatihan ini adalah memberikan pembekalan untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas dalam membuat kue baik kering maupun basah. Sehingga, hal itu bisa membuat peluang usaha baru yang berdaya saing tinggi untuk menambah penghasilan keluarga.

“Pelatihan ini paket yang keempat untuk tahun 2019, bersumber dari DBHCHT. Tujuan pelatihan ini sesuai dengan visi dan misi Bapak Bupati yakni meningkatkan derajat dan taraf hidup masyarakat,” ungkap Hari kepada awak media.

Diharapkan pelatihan ini dapat mendorong masyarakat untuk mandiri dan menumbuhkan kewirausahaan baru. "Dengan munculnya wirausaha baru, otomatis akan memunculkan lapangan kerja baru. Peserta per paket kegiatan ada 20 orang dan seluruh kecamatan. Harapan kami mereka semua bisa sukses berwirausaha,” ujarnya.

Menurut Hari, Kabupaten Blitar ini daerah agraris sehingga yang dominan adalah sektor pertanian. Sedangkan perusahaan di Blitar sangat terbatas jumlahnya. Dalam hal ini, Disnaker melihat butuh tempat untuk menampung para pengangguran. Dalam menampung pengangguran itu, Disnaker mendorong tumbuhnya usaha baru.

“Pesan saya untuk peserta, ikuti pelatihan ini dengan sungguh-sungguh, sehingga apa yang disampaikan instruktur bisa menjadi modal utama. Modal utama itu tidak perlu uang, tapi keterampilan. Ini harus betul-betul dipahami. Jadi, istilahnya setelah pelatihan ini bisa membentuk usaha-usaha baru,” tegasnya.

Untuk meningkatkan skill di bidang usaha kue, Disnaker memfasilitasi para calon wirausaha untuk mendapatkan bekal pelatihan dan pengalaman dari ahlinya dengan mendatangkan narasumber yang memang pakar di bidangnya.

Andik Eko Arnowo selaku narasumber dari Aisha Cookies Garum mengatakan, dalam pelatihan ini, pihaknya memberikan materi kue kering dan kue basah. Di antaranya resep unggulan kue sus untuk kue basah.

“Kue sus ini banyak dipakai untuk hajatan, mantenan dan lainnya. Prospek bisnis untuk hajatan ini sangat  bagus sekali karena orang sekarang itu gak pengen ribet,” paparnya.

Sementara untuk kue kering,   peserta mendapat bekal materi membuat kue nastar. Menurut Andik, kue nastar dan kue kering lainnya potensial untuk dibisniskan secara online dan banyak dibutuhkan di musim Lebaran.

“Tradisi Lebaran itu hanya ada di Indonesia. Jadi, ketika Lebaran, ha pasti makan kue. Pasar kue di negara kita sangat bagus. Nastar ini kue kering yang sangat digemari,” pungkasnya.(kmf)


End of content

No more pages to load