Wali Kota Malang Sutiaji (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Wali Kota Malang Sutiaji (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)



Kasus  motivator dari PT Piranhamas Group atas nama Agus Setiawan atau Agus Piranhamas yang menampar 10 siswa di SMK Muhammadiyah 2 Malang dinilai membuat instansi pendidikan tercoreng.

Kejadian tersebut seolah menambah posisi motivator di luar batas kontradiktif dan harus benar-benar teruji dalam melakukan tanggung jawabnya.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, dengan kejadian tersebut, perizinan keberadaan motivator di Kota Malang akan dikritisi. Sebab, apa yang dialami  10 siswa SMK Muhammadiyah 2 Malang dinilai tindakan yang kontradiktif dari seorang motivator.

"Izin-izin mereka akan kami kumpulkan. Memang sekarang banyak muncul motivator dan mestinya itu kan memotivasi. Ada nilai-nila kesabaran, nilai-nilai moral yang disampaikan. Ini malah seakan-akan kontradiktif dengan apa yang sesungguhnya," ujarnya ditemui di SMK Muhammadiyah 2 Malang, Jumat (18/10) siang.

Menurut Sutiaji, seorang motivator harus mampu mengembangkan potensi bagi orang lain. Termasuk  para pelajar. Bukan malah melakukan tindakan di luar batas.

"Harusnya kan membangkitkan sesuatu yang tidak mempunyai potensi menjadi punya potensi. Ini malah motivatornya membunuh karakter kebaikan yang dimiliki  siswa," tandasnya.

Karena itu,  pemkot akan melakukan koordinasi, baik itu dengan lembaga ataupun instansi, terkait  mengelola proses sertifikasi seorang motivator. Ia juga mengimbau bagi setiap sekolah untuk menginformasikan kepada dinas terkait apabila akan mendatangkan motivator sehingga kualitasnya benar-benar bisa teruji.

"Ini PR kami. Ke depan karena ini ada di bidang kami, baik lembaga atau instansi, dalam melakukan sertifikasi. Setiap sekolah nanti jika ingin mengundang motivator harus menginformasikan sehingga bisa diketahui track record-nya, seperti apa bisa jelas kualitasnya," tandasnya.

Seperti diberitakan, motivator Agus Setiawan menampar 10 siswa saat mengisi seminar wirausaha di SMK Muhammadiyah 2 Malang, Kamis 17 Oktober 2019. Agus marah karena banyak siswa tertawa saat terjadi kesalahan penulisan kata. 


End of content

No more pages to load