Ratusan ikan warna-warni berseliweran di parit yang berada di depan rumah warga. Airnya yang jernih membuat setiap gerakan ikan terlihat dengan jelas. Cuaca dingin dan sejuk semakin memberikan ketenangan dan kebahagiaan bagi siapa pun yang melihatnya.
Pemandangan ini bukannya di Jepang ataupun Korea, melainkan di Kampoeng Ikan yang ada di Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Banyuwangi.
Warga setempat memang bertahun-tahun menjadi pembudidaya ikan. Namun baru beberapa bulan ini ikan-ikan tersebut dipindahkan ke parit yang ada di depan rumahnya.
"Awalnya kami pindahkan ikan ini untuk membersihkan sampah yang ada di sungai. Ternyata begitu airnya bersih, malah memiliki daya tarik sendiri. Sehingga kami kelola hingga seperti ini," kata Rusady Awanto, (32), salah seorang penggagas Kampoeng Ikan.
Ternyata jurus ini berhasil. Setelah pemindahan ikan ke parit, perlahan-lahan sungai mulai bersih dari sampah. Sampai akhirnya saat ini parit ini sangat bersih dan airnya jernih. Sebab, di bagian ujung dipasang jaring untuk mencegah ikan lepas sekaligus sebagai filter sampah. Budidaya ikan di parit ini juga mampu menyadarkan warga untuk tidak buang air besar di parit atau sungai.
"Kami mulai memindahkan pembudidayaan ikan di parit sejak 7 atau 8 bulan lalu. Sejak saat itu, sampah di parit terus berkurang. Saat ini 90 persen sampah yang ada di parit sudah tidak ada lagi," kata Awanto.
Ikan yang ada di parit ini juga macam-macam. Mulai koi, tombro, mas, nila, bawal dan beberapa jenis ikan lain. Ikan-ikan ini ditebar di parit sepanjang satu kilometer. Bibit ikannya juga berasal dari warga sendiri. Warga melakukan pembenihan di kolam khusus pembenihan.
"Setelah ikan berumur satu bulan, kami pindahkan ke sawah dengan sistem mina padi. Lima belas hari sebelum padi panen, ikan kami pindahkan ke keramba. Jika ukurannya belum cukup besar, kami pindahkan ke sawah lagi. Tapi jika sudah cukup besar, kami pindahkan ke parit," jelasnya.
Pembesaran ikan dengan sistem mina padi ini memberikan keuntungan lebih bagi petani padi. Sebab, mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk pembelian pupuk karena kotoran ikan secara langsung menjadi pupuk organik bagi padi. Saat ini sudah ada sekitar dua hektare lahan sawah yang menerapkan sistem mina padi.
"Dengan sistem mina padi, hama padi akan menjadi makanan ikan. Hama tikus juga bisa dicegah. Hasil panen padi lebih banyak dari biasanya. Karena padinya organik, harga berasnya juga lebih tinggi. Ini menjadi nilai tambah bagi petani," ungkap Hambali (34), petani yang ikut menerapkan sistem mina padi.
Pengunjung yang datang tidak hanya sekadar melihat pemandangan ikan yang ada di parit dan area persawahan mina padi. Pengunjung juga bisa membeli ikan-ikan yang ada di sana.