Ketua Lesbumi Kota Malang Berlian Alhamid dalam diskusi singkat tentang sastra, budaya, warung kopi, dan berita yang digelar dadakan di Coffee Times. (Yogi Iqbal/MalangTIMES)
Ketua Lesbumi Kota Malang Berlian Alhamid dalam diskusi singkat tentang sastra, budaya, warung kopi, dan berita yang digelar dadakan di Coffee Times. (Yogi Iqbal/MalangTIMES)

Era digitalisasi tampaknya tidak hanya harus dilirik oleh pemerintah dan pemangku kebijakan saja. Anak muda tentunya harus ikut andil di dalamnya. Terutama ketika akan melakukan perubahan melalui karya-karyanya yang amat luar biasa. Tentunya bukan hanya sekadar mengonsumsi digitalisasi untuk sebatas eksistensi.

Sebab, dengan era keterbukaan itu, suara setiap pemuda dari berbagai daerah akan didengarkan. Sudah saatnya, anak muda mengikuti tren saat akan menyentil kebijakan yang tak prorakyat. Tanpa kecuali memublikasikan karyanya untuk bisa dinikmati khalayak luas.

Itulah sedikit pesan yang disampaikan Pemimpin Redaksi media online berjejaring terbesar di Jawa Timur, MalangTIMES, Heriyanto dan Ketua Lesbumi Kota Malang Berlian Alhamid dalam diskusi dadakan yang digelar di Coffee Times, lantai dua Pasar Terpadu Dinoyo, Rabu (16/10/2019) malam. Diskusi digelar bersamaan dengan agenda 'Malam Umbar Kata, Gugat Ketahanan Pangan Asing' yang digelar di Coffee Times.

Dalam diskusi warung kopi itu, Heriyanto menjelaskan, karya sastra bukanlah karya yang bisa dinikmati oleh semua kalangan. Salah satunya dikarena proses pengemasan yang tak menarik.

"Penikmat sastra, salah satunya puisi, sudah mengalami perubahan. Artinya, pegiat sastra harus memiliki cara yang berbeda dan menyesuaikan dengan kondisi terkini saat akan menyampaikan gagasannya," ungkap pria yang akrab disapa Heri itu.

Salah satunya adalah dengan menangkap peluang dari media online. Sebab, sejauh ini, pegiat sastra masih terpatok menggunakan media konvensional untuk meracuni pecinta sastra. Sementara di era digitalisasi, semestinya pola itu diubah.

"Pola memanfaatkan media konvensional mestinya bergeser. Karena ketika media konvensional hanya menyampaikan tulisan, maka media online bisa menyampaikan ekspresi pembaca puisi. Dan media online memiliki video," terangnya.

Melalui perubahan yang terus bergerak itu, Heri mengajak pegiat sastra untuk menangkap peluang yang ada. Sehingga, pesan yang ingin disampaikan tersalur kepada khalayak luas. Selain itu, maksud dan esensi karya yang dibuat dapat ditangkap dengan baik.

"Coffee Times yang merupakan bagian tak terpisahkan dari MalangTIMES memberikan wadah pada pegiat sastra. Khususnya mahasiswa untuk aktualisasi di CT. Karena seluruh kegiatan mahasiswa khususnya sastra akan difasilitasi, selain tempat juga publikasi," jelas alumnus Bermula dari Warung Kopi, Karya Sastra Arek Malang untuk Kemajuan Indonesia

Ketua Lesbumi Kota Malang Berlian Alhamid menambahkan, aktualusasi diri dari para pegiat sastra sangatlah penting dilakukan. Soalnya, karya sastra bukan hanya sekadar dinikmati. Melainkan juga mampu menyampaikan pesan untuk merubah sebuah peradaban. "Bahkan karya sastra dapat merubah sebuah kebijakan," jelasnya.

Menurut Berlian, aktulalisasi karya sastra dengan cara menggandeng media sebagai salah satu pilar demokrasi memang perlu dilakukan. Sehingga, karya yang dibuat dapat tersiar lebih luas dan mampu menpengaruhi setiap kebijakan yang akan dibuat. "Diskusi di warung kopi dan digital memjadi cara kekinian untuk berkespresi," ucapnya.

Sementara itu, dalam kesempatan tersebut, peserta yang hadir juga berkesempatan mendengarkan pria yang akrab disapa Bang Ber itu membacakan puisi. Salah satu yang dibacakan adalah puisi berjudul 'Percakapan Rahasia' karya Remy Silado.