Pemukiman di Kampungbaru, Sine yang diminta untuk dikosongkan (ist)

Pemukiman di Kampungbaru, Sine yang diminta untuk dikosongkan (ist)


Editor

A Yahya


TULUNGAGUNGTIMES - Warga Dusun Kampungbaru Sine, Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir resah. Pasalnya mereka mendapat surat  untuk mengosongkan lahan tempat rumah mereka berdiri. Surat peringatan ke 2 tertanggal 16 Agustus 2019 itu dikirim oleh Sony Sandra, seorang pengusaha asal Kediri yang selama ini dikenal pemilik perusahaan Triple S.

Dalam surat itu, Sony  memberikan tenggat hingga 30 September 2019, agar warga mengosongkan lahan dan segala bentuk bangunan.  

Tim Sony Sandra juga menyertakan blanko pernyataan kepada warga, bahwa mereka menempati lahan milik Sony dan rela dipindah. Namun warga mengabaikan surat peringatan itu dan tetap menempati lahan tersebut. “Totalnya ada 28 warga yang mendapat surat peringatan, termasuk saya,” ucap Mukilan (60), salah satu warga Dusun Kampungbaru Sine.

Mukilan mengabaikan surat itu, karena merasa tidak pernah menjual tanahnya kepada Sony Sandra. Mukilan merupakan orang yang pertama kali mendirikan rumah di Kampungbaru Sine, namun ia lupa tahun pastinya.

Saat mendirikan rumah di Kampungbaru kala itu, Sine masih sering terendam air laut. “Waktu mendirikan rumah, banyak orang yang mencibir saya. Mereka yakin rumah saya akan terendam air laut,” ucap Mukilan.

Namun setelah Mukilan mendirikan rumah, warga lain banyak yang menyusul mendirikan rumah hingga muncul perkampungan baru.

Diakui Mukilan, saat itu warga asal mematok tanah dan mendirikan rumah. Banyak di antara mereka yang menjual ke orang lain. “Saya sudah 20 tahun ada di sini, tidak pernah menjual tanah ke siapa pun. Kok tiba-tiba jadi milik orang,” ucap Mukilan.

Jarak rumah Mukilan ke bibir pantai sekitar 50 meter, dan hanya 30 meter saat pasang tertinggi. Saat ombak besar, pemukiman ini seringkali masih tergenang air laut. Sehingga wilayah yang diminta untuk dikosongkan masuk dalam sepadan pantai.

Senada dengan Mukilan,  Ponijan (72) membenarkan apa yang dikisahkan Mukilan. Menurutnya, penduduk Sine awalnya bermukim di sisi selatan pantai, yang dikenal dengan nama Pasetran Gondo Mayit.

Namun setelah Mukilan mendirikan rumah, banyak warga yang mengikuti jejaknya. “Kalau Mukilan ini tidak mendirikan rumah di sini, yang lain juga gak akan ikut-ikutan,” ucap Ponijan.

Kondisi semakin membaik, saat tanaman kelapa dan waru yang ditanam warga mulai membesar. Tanaman ini menjadi tanggul alam yang menahan deburan air laut. Secara alami tanggul ini menumpuk pasir yang dibawa ombak, sehingga air laut tidak bisa menjangkau daratan yang lebih luas.


End of content

No more pages to load