Ilustrasi.(Foto : Gambar oleh Udo Keppler (wikipedia) adalah tidak berlisensi (domain publik))

Ilustrasi.(Foto : Gambar oleh Udo Keppler (wikipedia) adalah tidak berlisensi (domain publik))


Pewarta

Editor

Yunan Helmy


Akal sehat dan pikiran ilmiah yang jalan itu membantu menjelaskan persoalan yang dihadapi dan kondisi yang ada. Bahkan jika bisa membantu memahami bagaimana pikiran dan perasaan diri kita berkembang akan lebih baik lagi.

Jika rasio dan kebiasaan menganalisa persoalan tidak jalan sejak dini, ini bisa mengembangkan prasangka prasangka. Bahkan bisa membangun konsepsi diri dan persepsi terhadap orang lain dan kehidupan.

Bayangkan pada kasus seorang anak membunuh ibunya dengan cara menggelonggong ibunya dengan air. Pelaku menganggap bahwa tindakan itu adalah bisikan kekuatan gaib penunggu pohon besar.

Anda percaya bahwa si pelaku disuruh oleh "kekuatan" luar dirinya?

Bukan. Itu adalah hasil persepsi diri. Hasil komunikasi intra-personal orang yang membangun suatu dialog irasional dalam dirinya sendiri. Dalam berhadapan dengan situasi yang menekan dan sulit, dialog intra-personal menguat terutama jika tidak ada komunikasi dengan orang lain, terutama yang membantu menjelaskan dan memberikan pertolongan.

Irasionalitas bisa berkembang cepat dan menghasilkan sebuah kesimpulan kuat dalam diri pribadi. Bisa jadi merupakan akumulasi dari pikiran pikiran irasional lainnya yang terpupuk dalam jangka waktu yang lama.

Irasionalitas yang telah menancap tanpa seseorang atau masyarakat yang akumulatif dan massif telan mengendalikan suatu perilaku dan pola pikir yang menjadi bagian dari alam bawah sadar yang mengendalikan pikiran dan perasaan.

Secara pengetahuan dan teknologi, juga secara tatanan dan relasi sosial, memang ada hal hal yang menyulitkan masyarakat untuk mengatasi persoalan. Tapi irasionalitas merupakan suatu katup pengaman struktur sosial yang mengendalikan relasi sosial.

Masalah pertanian yang mundur di pedesaan. Kesulitan yang dihadapi di bidang ekonomi. Pupuk yang langka dan hasil panen yang tak bisa merubah nasib. Sejak bertahun tahun yang jadi masalah ya tetap jadi keluh kesah di desa desa.

Relasi kuasa tak berubah. Kebanyakan orang tak bersuara dan tak muncul pikiran kritis dan melibatkan partisipasi aktif massa menyikapi masalah tersebut.

Irasionalitas justru dipupuk. Menganggap tak ada masalah tetapi efeknya secara material menyusahkan. Kumpul tiap Minggu antar warga, tapi ya hanya berdoa dan makan sehabis itu pulang. Ceramah berisi ajakan berdoa dan serahkan pada Tuhan berulangkali didengarkan.

Pasrah adalah ciri yang menonjol. Partisipasi tidak muncul karena merasa tidak ada gunanya karena semua sudah diatur Tuhan. Penjelasan penjelasan ilmiah tidak muncul atas masalah hidup keseharian. Panggung panggung budaya isinya adalah hiburan dan ajakan pasrah dan berdoa.

Relasi kuasa tidak berubah. Tidak banyak yang bersuara. Yang bersuara kadang tidak menjelaskan masalah dan hanya pengungkapan tidak puas yang tak punya senjata analitis ideologis. Proyek proyek bantuan diberikan, tapi tidak meningkatkan keberdayaan dan pikiran kritis dan jiwa kreatif. Tapi justru menciptakan ketergantungan.

Belum lagi ada oknum yang mau membantu tapi ada pamrih ... Mereka melelang program bantuan: "Kelompokku kubantu asal kita dapat sekian persen ya!", "Jalan didesaku kubangun, tapi jangan lupa kami dapat segini ya!"

Kebenaran sebagai nilai bukan hanya digebugi oleh irasionalitas yang terus berjalan. Tapi oleh pelecehan terhadap nilai nilai kebenaran oleh kepentingan untuk cari keuntungan pribadi dalam kegiatan melayani orang banyak.*

(Nurani Soyomukti, Penulis dan Pegiat Literasi,  13/10/2019)


End of content

No more pages to load