Turunnya harga daging ayam sepanjang September lalu membuat Kota Malang mengalami deflasi ketiga pada 2019. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Turunnya harga daging ayam sepanjang September lalu membuat Kota Malang mengalami deflasi ketiga pada 2019. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



Kota Malang mengalami deflasi sebanyak tiga kali hingga tengah semester kedua 2019 ini. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat deflasi itu terjadi pada Februari sebesar -0,42 persen, Juni sebesar -0,17 persen, dan September sebesar -0,03 persen. 

Penurunan harga kelompok bahan makanan dan kelompok transportasi menjadi penyebab yang dominan.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengatakan bahwa turunnya harga sejumlah kebutuhan pangan membuat perekonomian di wilayah Jawa Timur membaik. 

"Pada September 2019, BPS mencatat seluruh daerah di Jawa Timur mengalami deflasi, termasuk Kota Malang," ungkapnya. 

Pada September 2019, kota pendidikan mengalami deflasi sebesar -0.03 persen.

Sementara angka deflasi Jawa Timur tercatat sebesar -0,07 persen. 

Dari sepuluh komoditas utama penyumbang deflasi, penurunan harga daging ayam ras memiliki andil terbesar yakni mencapai 5,75 persen. 

Selain itu, juga penurunan tarif angkutan udara sebesar 2,80 persen, serta penurunan harga cabai rawit, bawang merah, telur ayam ras, dan bawang putih. 

"Penurunan harga cabai merah, ketimun, bahan bakar rumah tangga, dan harga udang basah juga ikut berkontribusi terhadap angka deflasi Kota Malang," kata Sunaryo. 

Di sisi lain, ada pula komoditas-komoditas yang mengalami kenaikan harga. Kenaikan tersebut menghambat laju deflasi. 

Di antaranya, kenaikan harga mie sebesar 9,39 persen menjadi komoditas utama penghambat deflasi. 

Selain mie, harga emas perhiasan, minyak goreng, tempe, dan daging sapi yang mengalami kenaikan juga menghambat deflasi. 

"Komoditas lain yang mengalami kenaikan harga yakni semen, kelapa, rokok kretek filter, kentang, dan buah apel," tuturnya.

Meski angka mengalami deflasi, Sunaryo menilai laju inflasi tahunan masih cenderung stabil dan aman. Namun, pemerintah diminta tetap waspada. 

Terutama, situasi musim kemarau panjang yang bisa memicu kenaikan harga lantaran keterbatasan stok. 

"Yang paling penting, stok pangan aman. Situasi alam merupakan kecenderungan alamiah, jadi tidak perlu takut inflasi," pungkasnya.


End of content

No more pages to load