Ketua Fraksi PPP DPRD Kota Blitar, M Nuhan Eko Wahyudi.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Ketua Fraksi PPP DPRD Kota Blitar, M Nuhan Eko Wahyudi.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)


Editor

Heryanto


Film Joker yang dibintangi Joaquin Phoenix tengah menjadi perbincangan. Film garapan sutradara Todd Phillips itu mendapat sambutan luar biasa di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Namun di balik itu, ada ketakutan dari sejumlah masyarakat kalau film Joker bisa menstimulasi orang untuk berbuat jahat. 

Kontroversi pun muncul sebagai tanggapan dari para penggemar yang sudah menonton film garapan DC Comics tersebut.

Banyak dari mereka menganggap bahwa aksi pemeran utama Joker, Joaquin Phoenix, bisa berpotensi menciptakan dukungan atas kekerasan massal. 

Bahkan, mereka juga takut karena film ini terkesan menunjukkan rasa kasihan dan iba terhadap seorang penjahat.

Kontroversi film Joker tersebut mendapat banyak tanggapan dari berbagai pihak, salah satunya kalangan wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Blitar. 

Ketua Fraksi Persatuan Pembangunan DPRD Kota Blitar, M Nuhan Eko Wahyudi, mengatakan film Joker ini diperuntukkan untuk usia 17 tahun keatas, dan bukan ditonton oleh anak-anak.

“Film Joker ini tergolong R, harusnya ditonton oleh remaja 17 tahun keatas. Maka dari itu kami berharap orang tua bisa memahami, orang tua bisa menyadari dan tidak mengajak anak-anak untuk menonton film tersebut karena konten film ini khusus untuk dewasa,” ungkap Nuhan kepada BLITARTIMES.

Nuhan menambahkan, selain ada pengertian dari orang tua pihaknya juga memberikan imbauan kepada Dinas Pendidikan dan Guru untuk memberikan pengertian kepada anak agar tidak menonton film Joker.

“Karena film Joker ini berisi konten orang yang menderita. Joker dikisahkan sebagai tokoh yang menderita gangguan mental dan sakit jiwa, ini kalau ditonton emosi akan campur aduk, kalau anak tidak siap bisa menimbulkan  efek psikologis yang kurang baik,” kata wakil rakyat yang juga motivator.(*)


End of content

No more pages to load