Ecobricks menjadi solusi pengelolaan limbah sampah yang kini dimasifkan di berbagai lembaga pendidikan di Kabupaten Malang (Ist)

Ecobricks menjadi solusi pengelolaan limbah sampah yang kini dimasifkan di berbagai lembaga pendidikan di Kabupaten Malang (Ist)



Dinas Pendidikan Kabupaten Malang kembali menggelar pelatihan kepada 170 guru sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). 

Bukan pelatihan untuk kapasitas khusus sebagai seorang guru yang mengampu mata pelajaran biasanya, tapi Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, menggelar pelatihan Ecobricks atau batu bata ramah lingkungan dari bahan sampah plastik.

Menggandeng salah satu perusahaan swasta yang bergulat di bidang minuman, Dinas Pendidikan berupaya untuk mewujudkan salah satu program strategis di Kabupaten Malang yaitu daya dukung lingkungan hidup. Melalui peran serta langsung para guru SD dan SMP di lingkungan sekolahnya masing-masing.

Rachmat Hardijono Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, membenarkan tujuan diadakannya pelatihan Ecobricks dengan bahan plastik itu.

"Ini merupakan kegiatan kita dalam mewujudkan daya dukung lingkungan hidup melalui para guru yang ada di wilayah Kabupaten Malang. Dimana, kita ketahui sampah plastik telah menjadi ancaman lingkungan saat ini. Sehingga kita pun ikut serta untuk mendukungnya melalui pelatihan ini," kata Rachmat menerangkan pelatihan Ecobricks bagi para guru ini.

Ecobricks atau batu bata ramah lingkungan, telah menjadi solusi diberbagai negara yang mulai kewalahan terhadap ancaman sampah plastik. Melaluinya limbah sampah mampu menjadi kehidupan baru.

Penyematan arti Ecobricks pun dikarenakan sampah plastik ini dapat menjadi alternatif bagi bata konvensional dalam mendirikan bangunan. Maka dari itu ecobrick biasa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan furniture. 
"Dengan fungsinya selain menjaga lingkungan hidup, Ecobricks pun bisa dijadikan berbagai bahan baku furniture. Ini cocok diterapkan dan nantinya para guru yang telah dilatih bisa menularkan kepada para siswanya," ujar Rachmat.

Lanjutnya, Ecobricks yang dilatihkan juga tak membutuhkan anggran besar. "Tujuan utamanya adalah edukasi pada siswa untuk mengelola sampah. Kita harapkan bila ini berjalan secara berkesinambungan, maka kita akan mampu mengurangi limbah sampah di Kabupaten Malang. Selain akan tumbuhnya generasi peduli sampah," terang Rachmat.

Suasana pelatihan ecobricks ratusan guru SD dan SMP se-Kabupaten Malang (for MalangTimes)

Lantip Waspodo Humas perusahaan yang digandeng oleh Dinas Pendidikan dalam pelatihan Ecobricks kepada ratusan guru di Kabupaten Malang ini, juga menyampaikan hal senada dengan Rachmat.

Limbah sampah, lanjutnya, telah jadi ancaman serius diberbagai negara tak terkecuali Indonesia. Berdasarkan hasil riset yang dipublikasikan oleh Jenna R Jambeck di tahun 2016, Indonesia menempati peringkat kedua negara penyumbang sampah plastik laut terbesar setelah Tiongkok. Dimana, hasil riset itu didukung oleh riset Greeneration yang mengungkapkan bahwa satu orang Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun. 

Menurut riset terbaru Sustainable Waste Indonesia, tahun 2018, sebanyak 24% sampah di Indonesia tidak terkelola. Jumlah ini sangat banyak melihat susunan kimia sampah plastik yang sulit diurai. Selain itu, pengelolaan sampah yang ala kadarnya dikarenakan minimnya lahan pembuangan sampah juga menimbulkan masalah baru, yaitu pencemaran udara, tanah, dan dapat menyebabkan kebakaran. 

"Kondisi ini terus terjadi, sehingga diperlukan solusi dalam pengelolaan sampah. Salah satunya adalah Ecobricks ini. Dimana limbah sampah disulap menjadi bahan baku berguna untuk kehidupan keseharian kita. Dari jadi batu bata ramah lingkungan, meja, kursi atau lainnya," ujar Waspodo.
 

Untuk membumikan Ecobricks inilah, pihaknya menggandeng berbagai sekolahan. Dimana, pihaknya memang menyasar para guru dalam menguasai teknik pengelolaan limbah sampah. 
"Dengan melibatkan guru itu jelas, karena bisa lebih mudah menularkan kampanye kelola sampah plastik kepada anak didiknya. Sehingga Kepedulian sampah juga akan tertanam sejak dini pada para siswa di sekolahan," ujarnya.
 

Pelatihan Ecobricks ke berbagai sekolahan yang dilakukan pihaknya selama tahun 2018, telah mampu mengurangi volume sampah plastik hingga sekitar 2,1 ton. "Ini dihitung dari dilakukannya pelatihan ecobrick yang diikuti lebih dari 25 ribu orang tahun itu," ucap Waspodo.

Untuk lebih menarik perhatian lembaga sekolahan, pihaknya juga tak hanya merangkul dan memberikan pelatihan saja. Tapi melalui program CSR-nya ada juga apresiasi bagi sekolahan yang menjalankan pengelolaan sampah melalui Ecobricks ini. Yakni, adanya pembagian 1.000 laptop bagi sekolahan yang bisa mengolah sampah jadi Ecobricks sejumlah minimal 100 botol.

"Semua ini juga karena produk kami banyak juga dikonsumsi di sekitar sekolahan. Lewat CSR ini kita ambil lagi sampah plastiknya dengan cara memberikan pelatihan ini," tandas Waspodo.


End of content

No more pages to load