Bandara Abdulrachman Saleh. (foto dokumen MalangTIMES)

Bandara Abdulrachman Saleh. (foto dokumen MalangTIMES)



Pelaku wisata dan pengguna Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, resah atas beredarnya surat larangan angkutan darat berbayar mengangkut atau membawa penumpang dari bandara tersebut selain angkutan yang dikelola bandara. Angkutan yang dilarang itu adalah angkutan berbasis online, shuttle service/rent car/travel, bus wisata dan jip wisata. 

Dengan adanya edaran tersebut, para pelaku wisata di Malang Raya kini mulai gelisah. Mereka khawatir dampak pariwisata akan sepi.

Salah satu pelaku wisata yang juga Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Batu Ilham Adilia mengatakan bahwa Kamis (10/10/2019) ia yang akan menjemput tamu kurang lebih pukul 08.00 WIB ditemui salah satu staf koperasi yang menaungi taksi Bandara Abdulrachman Saleh di loket masuk.

Kemudian, Ilham diajak bicara terkait laporan. "Saya (bingung) tanya laporan terkait apa. Nah akhirnya dia tanya ini dari pemerintah apa tidak. Saya bilang bukan. Ini dari pariwisata. Lalu beliau menyampaikan itu, bahwa berdasarkan surat edaran, kendaraan online kemudian travel atau bus pariwisata ini tidak boleh menjemput tamu dari bandara. Sebenarnya bukan tidak boleh, namun laporan kepada pihak koperasi. Ketika itu, beliau juga belum bisa menunjukkan suratnya. Waktu itu bilang untuk saat ini tidak apa-apa jemput, tapi lain kali bisa laporan dulu," ungkap Uyak, sapaan akrab Ilham.

Ilham mengaku, kalau isi surat edaran tersebut memang benar-benar diterapkan, dia khawatir pariwisata di Malang Raya ini bisa terancam perkembangannya. Sebab, salah satu pintu masuknya dari Bandara Abdulrachman Saleh.

"Terus beliau bilang ini sebenarnya bukan kemauan dari pihak koperasi, tapi ini keluhan dari taksi bandara. Salah satu kasunya kemarin ada 13 bus yang jemput ke bandara, yang mengakibatkan teman-teman taksi ini sepi," katanya menirukan pembicaraan dengan salah satu staf koperasi di Bandara Abdulrachman Saleh.

"Bandara ini kan umum. Artinya kalau menurut kami pelaku pariwisata, siapa pun boleh jemput di situ dan tidak wajib menggunakan taksi," imbuh Ilham.

Dalam pembicaraannya dengan salah satu staf koperasi di bandara, Ilham mengatakan pihak taksi bandara ingin berbagi.

Setelah pembicaraan dengan salah satu staf koperasi di Bandara Abdukrachman Saleh, Ilham pun tidak bisa berlama-lama karena harus meng-handle tamu yang dijemput. Tapi Ilham sempat bertukar nomor telepon dengan salah satu staf koperasi tersebut.

"Lalu, saya ditelpon sama beliau, stafnya ini yang tadi ketemu sama saya. Ditelepon katanya pihak kepala koperasi besok ingin ketemu saya. Saya bilang tidak bisa masih menghandel tamu," katanya.

Dari situ, Ilham mendapat kejelasan terkait surat edaran yang juga belum ada tanggal dan tanda tangan serta stempel resmi dari pihak pengelola Bandara Abdulrachman Saleh. Namun di dalam surat tersebut tertulis jelas larangan  angkutan umum berbayar untuk membawa atau menjemput penumpang keluar kawasan bandara selain taksi yang dikelola bandara.

"(Karena khawatir dengan efek pariwisata di Malang Raya) pertama saya share ke pengurus tingkat DPD, ke teman-teman ketua divisi Malang, setelah itu di organisasi saya internal, baru setelah itu menyebar. Nah terakhir hal ini sudah menjadi bahasan insan para pariwisata nasional karena pintu masuknya Malang salah satunya pesawat kan cuma satu, yaitu dari Bandara Abd Saleh," ungkapnya.

Kekhawatiran Ilham dengan adanya surat edaran tersebut memang bisa diterima. Sebab, para wisatawan tentu akan berpikir ulang jika harus mengeluarkan bujet lebih untuk menggunakan alat transportasi.

Bahkan ia teringat pada periode tahun 2014/2015, saat itu kejadian seperti ini juga sempat muncul. Tapi saat itu bisa dilakukan mediasi dan akhirnya bisa selesai. "Efeknya pariwisata di Malang Raya bisa turun jika benar-benar terjadi," ucap Ilham.

Dia tidak ingin pihak koperasi hanya bertemu dengannya. Ia berharap ada suatu pertemuan antara koperasi Bandara Abdulrachman Saleh, pelaku wisata atau organisasi wisata di Malang Raya, dinas terkait pariwisata dan pengelola taksi di bandara.

"Untuk solusi, kami harus bicara dan duduk bersama. Tentu harapan kami edaran tersebut tidak terjadi karena efeknya akan sangat terasa bagi pariwisata di Malang Raya," pungkasnya.

 

Tag's Berita

End of content

No more pages to load