ilustrasi kekeringan (ist)

ilustrasi kekeringan (ist)


Editor

A Yahya


 Musim kemarau yang masih berlangsung hingga bulan Oktober ini membuat 9 desa di Tulungagung terdampak kekeringan. Untuk meringankan beban itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tulungagung, rutin menyalurkan bantuan air bersih ke sembilan desa itu selama 2 bulan terakhir. "Penyaluran kami lakukan bergilir dengan rata-rata 4-5 desa per harinya," kata Kepala BPBD Tulungagung Suroto di Tulungagung, Senin.

Ke 9 desa itu tersebar di 5 kecamatan yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Tulungagung, seperti di Kecamatan Besuki, Tanggunggunung, Kalidawir, Pucanglaban dan Rejotangan. Penyaluran dilakukan atas permintaan dari pemerintah desa setempat

"Ada yang mendapat pasokan antara 1-2 tangki, tergantung kebutuhan dan kemampuan. Kalau total sehari rata-rata suplai kami sekitar 6-7 tangki dengan skema distribusi bergilir tadi," terangnya.

Pasokan air bersih ini akan terus dilaukan hingga bencana kekeringan berakhir dan sumber air kembali mengalir. Diperkirakan kemarau masih akan terjadi antara akhir Oktober hingga awal November.

Kekeringan ini lanjut Soeroto diperkirakan akan meluas, mengingat masih belum berakhirnya musim kemarau dan berkurangnya debit air tanah.

Banyak permukaan air sumur susut hingga kering sama sekali. Demikian juga dengan sumber-sumber air dan sungai yang tak lagi mengalirkan air.

Warga yang mampu masih bisa menyiasati kondisi krisis ini dengan membeli air ke pedagang atau pengecer air bersih yang dijual komersil dengan harga senilai Rp 15 ribu per 15 liter.

Namun hal ini tidak berlaku bagi sebagian besar warga desa yang hidup di bawah garis sejahtera, sehingga tak mampu membeli air bersih untuk kebutuhan konsumsi dan MCK yang sehari bisa menghabiskan air dengan volume mencapai puluhan hingga ratusan liter.


End of content

No more pages to load