Selain Halaqoh Kebangsaan Dirjen Kemendikbud RI Juga Gelar Lomba Esai. (Foto: Bambang Setioko/JatimTIMES)

Selain Halaqoh Kebangsaan Dirjen Kemendikbud RI Juga Gelar Lomba Esai. (Foto: Bambang Setioko/JatimTIMES)



Dalam upaya untuk memperkokoh karakter dan kepribadian bangsa melalui bidang kesejarahan.

Kegiatan yang berlangsung di  Aula Al Muktamar Lirboyo mulai Rabu 2 Oktober sampai Jumat 4 Oktober 2019, di hari kedua juga menggelar Lomba Esai Kebangsaan.

"Lomba esai ini dimaksudkan sebagai ajang kreativitas santri dalam menyusun esai dalam bahasa Arab dengan judul: Syabuna al-Indunisy: al-Tajariib wa al-Amaaly (Bangsa Kita adalah Bangsa Indonesia: Pengalaman dan Harapan). Lomba dimulai tanggal 15-26 September 2019 ketika para peserta mengirimkan karya esainya" kata Triana Wulandari kepada awak media ketika menggelar jumpa pers, Rabu (03/10/2019).

Terpisah, dari keterangan Alvin selaku koordinator perlobaan Esai Halaqoh kebangsaan menjelaskan, dari puluhan karya esai yang terkumpul diseleksi oleh dewan juri dan dipilih 10 esai dan dipresentasikan pada hari ini Kamis 3 Oktober 2019.

Lomba presentasi berbahasa Arab menggunakan bahasa Arab dalam rangka halaqoh kebangsaan, kerjasama dari Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Pondok Pesantren Lirboyo dan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi).

"Dari puluhan esai-esai yang terkumpul dipilih  terbaik oleh Dewan Juri untuk dipresentasikan menggunakan bahasa arab. Dari hasil presentasi ini untuk menentukan juara 1, 2, 3, dan juara harapan 1, 2, 3" jelas Alvin.

Triana Wulandari menambahkan, beragam acara yang didesain dalam kegiatan Pena Bangsa ini menjadi bagian dari kontribusi (legacy) pesantren dari masa ke masa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menanamkan nilai-nilai toleransi sangat signifikan dalam mempersatukan kehidupan masyarakat.

Pesantren yang menampilkan wajah Islam yang tawassuth (memilih jalan tengah), tasamuh (toleran), dan tawazun (menjaga keseimbangan) memberikan kontribusi penting dalam pembentukan bangsa-negara Indonesia sejak masa prapenjajahan, penjajahan, perjuangan kemerdekaan, proklamasi kemerdekaan, masa pascakemerdekaan sampai masa kontemporer.

"Oleh karena itu, dalam setiap periode sejarah bangsa Indonesia, Tradisi Pesantren selalu dapat mengambil peran yang penting. Mudahnya demokrasi tumbuh di Indonesia yang kini menjadi negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan Amerika Serikat salah satunya adalah ditopang oleh Islam Indonesia yang berwajah tawassuth, yang inklusif, akomodatif, toleran dan menerima UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai final" papar Triana.


End of content

No more pages to load