Pasar Srengat di Kec Srengat, Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Pasar Srengat di Kec Srengat, Kab Blitar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)


Editor

Heryanto


Tiga proyek musala di Pasar Tradisional di Kabupaten Blitar rampung dikerjakan dan segera diresmikan dalam waktu dekat. 

Ketiganya merupakan bagian dari pembangunan yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Ketiga pasar itu masing-masing Pasar Pagi Kademangan, Pasar Srengat dan Pasar Garum.

Untuk Pasar Kademangan, selain musala juga akan dialokasikan anggaran untuk normalisasi saluran air. 

Sementara untuk Pasar Srengat, selain musala juga dibangun toilet dan kamar mandi dengan harapan meningkatkan kebersihan pasar dan memberikan kenyamanan kepada penjual dan pembeli. 

Anggaran pembangunan musala di tiap pasar pun tidak sama. 

Pasar Kademangan dianggarkan Rp 85 juta, Pasar Srengat 71 juta dan Pasar Garum mendapat kucuran Rp 70 juta.

“Perbaikan fasilitas umum di pasar tradisional tetap menjadi prioritas kami. Tapi kami beranggapan, meski kegiatan di pasar merupakan kegiatan ekonomi, tapi keimanan juga harus diperhatikan. Sentral kami tahun ini dari DBHCHT adalah rehab musala,” ungkap Kepala Disperindag Kabupaten Blitar, Tavip Wiyono melalui Kabid Pasar, Wita Tri Wardhani, Kamis (3/10/2019).

Dikatakannya, saat ini seluruh pembangunan di ketiga pasar tersebut telah selesai. Peresmian tinggal menunggu pemberesan administrasi.

“Pencairan untuk suatu dana harus dilengkapi administrasi. Pada waktu ini masih penghitungan volume pengerjaan. Dari kami untuk mengajukan pencairan dana harus ada penghitungan volume. Ini belum selesai karena admin mereka belum menyerahkan mc 100. Mc 100 masih dalam tahap penyelesaian,” paparnya.

Disperindag berharap keberadaan musala ini nantinya selain meningkatkan ibadah penghuni pasar juga dapat meningkatkan kejujuran para pedagang. 

Sehingga kualitas pelayanan pasar tradisional di Kabupaten Blitar dapat meningkat.

“Harapan kami dengan adanya musala ini pedagang lebih taat beribadah dan bisa memberikan hak-hak pembeli dengan penuh kejujuran baik ukuran maupun kualitas barang yang dijual. Oleh sebab itu mushola di tiap pasar akan menjadi perhatian kami. Musala itu kami bangun di pasar pagi. Karena apa?, aktivitas di pasar pagi itu mulai jam 12 malam hingga jam 7 pagi. Oleh sebab itu kami berharap di sela waktu bekerja mereka bisa beribadah khususnya salat subuh,” katanya.

Tahun depan adalah tahun politik, Disperindag berharap anggaran DBHCHT  yang bersumber dari pemerintah pusat bisa terus digelontorkan untuk kelanjutan pembangunan di Kabupaten Blitar.

“Kami berharap tahun depan alokasi dana bisa bertambah, karena dimungkinkan alokasi untuk rehab kemungkinan berkurang. Dengan dikucurkannya dana DBHCT bila ditambah maka kemungkinan besar pembangunan tetap bisa berlangsung. Sebab apa?, pasar rakyat sangat dibutuhkan pemeliharaan dalam skala rehab ataupun renovasi-renovasi kecil setiap tahun. Pemeliharaan bangunan dibutuhkan agar pelayanan prima dapat dirasakan penjual dan pembeli yang beraktifitas di pasar,” pungkasnya.(kmf)


End of content

No more pages to load