Bupati Malang Sanusi dalam kontestasi Pilkada serentak 2020 (nana)

Bupati Malang Sanusi dalam kontestasi Pilkada serentak 2020 (nana)



Tahapan pilkada serentak 2020 telah di depan mata. Dimana KPU telah cukup lama merilis tahapan kegiatan dalam kontestasi demokrasi lima tahunan di tingkat daerah ini. Baik, perencanaan program dan anggaran, penyusunan penandatanganan NPHD (Naskah Perjanjian Hibah Daerah), sosialisasi sampai pada pembentukan petugas Pilkada dari setiap jenjang. 

Tak terkecuali terkait waktu pendaftaran bagi  calon bupati dan wakil bupati serta walikota dan wakil walikota yang akan dilaksanakan pada minggu pertama bulan Maret 2020.
Waktu yang tersisa untuk menuju tahapan pendaftaran itu hanya menyisakan waktu sekitar 5 bulan lagi. Tapi, kondisi di Kabupaten Malang, terlihat masih adem ayem khususnya bagi partai dengan perolehan kursi besar di legislatif seperti PKB. 

Seperti diketahui, PDI-Perjuangan telah melaksanakan proses penjaringan bakal calon bupati dan wakil, beberapa pekan lalu. Tinggal PKB yang raihan kursinya sama dengan partai berlambang banteng moncong putih ini, yang masih belum terpantau media. 

Walau telah ramai sejak PKB mendulang suara yang terbilang luar biasa di Pileg 2019 lalu. Yakni, akan mengusung Sanusi sebagai calon bupati 2020, tapi progres maupun kepastian itu masih belum bisa terkonfirmasi secara luas. 
Hal ini juga disampaikan oleh wakil Ketua DPC PKB Kabupaten Malang, Sa'adullah yang mengatakan, mekanisme pemberian rekom tergantung dari pengurus DPP PKB. 

"Jadi untuk itu, kami tidak bisa menjamin. Ada mekanisme sendiri di tingkat DPP PKB," ucap Sa'adullah saat dikonfirmasi terkait persoalan Sanusi yang merupakan Bupati Malang saat ini. 

Seperti diketahui, nama Sanusi telah mencuat sejak PKB memastikan mampu mengusung pasangan calon bupati dan wakil bupati, secara sendiri dalam Pilkada serentak 2020 yang rencananya akan dilaksanakan 23 September 2020 datang. Bahkan, nama Sanusi menjadi prioritas utama sebagai calon bupati Malang yang akan diusung oleh PKB. 

Tapi, dalam perjalanan waktu, saat PDI-Perjuangan telah tuntaskan proses penjaringan dan pendaftaran bacalon bupati dan wakil. PKB malah dirundung persoalan terkait kadernya yang dilaporkan ke kepolisian dalam peristiwa asmara. 

Nama-nama kader PKB pun mulai bermunculan di masyarakat, selain Sanusi yang awalnya sangat diprioritaskan. Seperti yang disampaikan salah satu politik PKB, Miskari, yang optimis pilihan partainya adalah Sanusi untuk maju dalam Pilkada serentak. 

Ada nama Ali Ahmad atau Gus Ali, H Kholiq, Hasan Abadi Umar Usman (keduanya ikut pendaftaran ke PDI-Perjuangan) yang ikut meramaikan bursa nama bacalon bupati dan wakil untuk 2020.
"Nama-nama itu juga layak untuk mengikuti dan jadi calon dari PKB. Selain nama lain dari kader atau masyarakat lainnya. Tapi sekali lagi tidak ada jaminan dari kita mendapat rekomendasi. Karena itu ranahnya di DPP," ujar Sa'adullah.

Ia menyampaikan, untuk menjadi calon dari PKB, siapapun harus menempuh proses jajak pendapat, survey, elektabilitas, dan beberapa penilaian yang dijadikan dasar untuk mengeluarkan rekomendasi. 

Lantas, akankah Sanusi mendapatkan tiket untuk melaju menjadi calon bupati Malang 2020 dari PKB. Atau adakah partai politik lain akan meminangnya untuk dijadikan calon, khususnya bagi partai yang tidak bisa mengusung calonnya sendiri. Misalnya Golkar, Gerindra atau NasDem yang notabene juga belum terlihat untuk menentukan pilihannya dalam Pilkada serentak 2020.

Dari berbagai narasumber yang tak berkenan disebut namanya, Sanusi masih tetap berpeluang untuk jadi calon dari PKB. Walaupun, tentunya juga banyak hal yang jadi catatan atas kiprahnya selama ini. Baik saat menjadi wakil bupati Malang sampai plt Bupati Malang dan Bupati Malang kini. 

"Jejaknya selama ini memang yang masih jadi pro dan kontra di PKB menurut saya. Dimana, pak Sanusi walau bagian dari PKB masih belum maksimal saat jadi wabup mendukung NU sebagai bagian yang membuat partai ini ada," ucapnya. 

Selain hal itu beberapa blunder saat menjadi Plt Bupati Malang pun, lanjutnya, tentu jadi bahan pertimbangan juga. "Seperti pelantikan pejabat yang menimbulkan kontra cukup luas saat itu," ujarnya. 

Narasumber lainnya dari sayap organisasi NU, mengatakan sebaliknya. Dimana menurutnya, Sanusi adalah orang NU tulen dan mengabdi untuk kepentingan organisasi masyarakat keagamaan terbesar di Indonesia ini. 

"Beliau adalah orang yang konsen di NU kok. NU tulen, saya tahu jejak rekamnya," ucapnya. 
Lepas dari pro dan kontra itu, Sanusi memang masih belum secara pasti akan melenggang dan menaiki kendaraan politik mana pada Pilkada 2020 datang. 
 


End of content

No more pages to load