Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal saat menggelar press rilis pengungkapan home industri pil dobel L. (eko Arif s /JatimTimes)

Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal saat menggelar press rilis pengungkapan home industri pil dobel L. (eko Arif s /JatimTimes)



Satuan Narkoba Polres Kediri berhasil membongkar pabrik rumahan atau home industry pil dobel L di Desa Paron Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. 

Pil dobel L yang diedarkan di wilayah Karisedenan Kediri ini merupakan campuran dari tepung tapioka dan cairan kimia.

Dalam penggerebekan tersebut Polisi menangkap pemilik usaha terlarang bernama Sutiono alias Negro (33) dan Sugeng Pramono (27) selaku pemilik rumah kontrakan yang disewa pelaku di Desa Paron, Kecamatan Ngasem.

Dalam meracik obat keras jenis pil dobel L, Sutiono dan Sugeng Pramono tidak memiliki kemampuan farmasi. 

Namun, kedua pelaku membuat obat pil dobel L tersebut melalui video tutorial yang mereka lihat di Youtube.

"Tersangka membuat dan meracik pil dobel L baru satu bulan, dan tersangka belajar membuat pil dobel L melalui Youtube belajar secara otodidak,"kata Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal saat menggelar pers rillis di Mapolres Kediri, Selasa (1/10/19).

Menurut Kapolres, awalnya pelaku memasukkan 100 botol obat sidiadryl dan 75 botol obat scopamin ke dalam botol kaca. 

Pelaku kemudian mengocok botol kaca tersebut sehingga kedua obat tercampur. 

Pelaku menyiapkan 20 kilogram tepung tapioca dalam ember.

"Setelah tercampur, pelaku memasukkan adonan ke dalam oven selama satu jam hingga campuran tersebut kering. Setelah dingin, proses pencetakan pil pun dilakukan oleh Sutiono dan Sugeng. Adonan kering dimasukkan ke dalam mesin pencetak pil dan keluar pil berbentuk bulat putih dangan logo LL,"ungkap AKBP Roni.

Di hadapan penyidik, kedua pelaku mengaku baru satu bulan memproduksi pil dobel l. 

Bahan-bahan yang dibeli secara online tersebut disimpan pelaku dalam sebuang banker bawah tanah. 

Barang bukti yang berhasil disita ditemukan petugas dalam sebuah banker.

Kedua tersangka mengemas ribuan butir pil dobel L yang telah mereka produksi dalam kemasan pastik berisi 100 butir. 

Untuk mengelabuhi petugas dalam penjualanya pelaku menggunakan label Vitamin B2.

Sementara, pil tersebut dijual dengan harga Rp 300.000 per 100 butir.

Sementara itu untuk peredarannya, kedua pelaku telah memasarkan pil dobel L buatan mereka ke luar kota. 

Selain diedarkan di wilayah Kabupaten Kediri juga diedarkan di Kebupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Blitar.

“Kami masih melakukan pengembangan kasus ini untuk mengungkap jaringan besar di belakang pelaku yang diduga di kendalikan dari dalam Lapas,” kata Kapolres Kediri AKBP Roni Faisal.

Tersangka terancam pasal 197 KUHP subsider 196 Undang undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar.


End of content

No more pages to load