Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Hendi Septiadi (foto : Joko Pramono/ Jatim Times)
Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Hendi Septiadi (foto : Joko Pramono/ Jatim Times)

 Kasus pembalakan Sono Keling di Tulungagung menjadi perhatian dari Kapolres Tulungagung yang baru, AKBP Eva Guna Pandia. Hal itu diungkap[kan oleh Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Hendi Septiadi, Senin (30/9/19) setelah dirinya dipanggil oleh Kapolres.

“Sonokeling menjadi fokusnya pak Kapolres, anggota melakukan penyelidikan kembali ke lapangan dan berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait,” ujar Kasat reskrim.

Bahkan pihaknya melakukan koordinasi dengan Polres Trenggalek yang lebih dulu menangkap tersangka pembalakan serupa di wilayah Trenggalek. “Karena di sana (Trenggalek) sudah ada putusan, kita akan jadikan yurisprudesinya,” ujar Kasat Reskrim.

Pihaknya berjanji dalam satu bulan kedepan akan ada perkembangan kasus pembalakan ini. Tidak menutup kemungkinan akan menetapakn tersangka dalam kasus ini.  “Ada beberapa orang yang akan kita periksa,” tandasnya.

Kasus pembalakan sono keling di Tulungagung terjadi pada sekitar bulan April 2019 lalu. Kasus yang terjadi di Tulungagung terjadi bersamaan dengan wilayah Trenggalek. Polres Trenggalek sendiri sudah menetapkan 5 tersangka dalam kasus sono keling, yang mana salah satunya anggota Kepolisian.

Saat ini ke 4 pelaku sudah di vonis pidana 1 tahun 6 bulan penjara dan ganti rugi masing-masing sebesar 50 juta Rupiah, sedang kasus yang melibatkan oknum Polisi sudah masuk ketahap persidangan.

Kasus pembalakan sonokeling kembali mencuat setelah ribuan mahasiswa Tulungagung demo di depan gedung DPRD Tulungagung pada Kamis (26/9/19) lalu. Selain mengusung isu UU KPK dan RKUHP, mahasiswa juga meminta pihak Kepolisian untuk mengusut tuntas kasus pembalakan sonokeling di Tulungagung yang merugikan negara hingga milyaran rupiah.

Koodinator aksi mahasiswa, Awaludin Makrifatullah mengatakan alasan pihaknya mengusut tuntas pembalakan sonokeling ini.

“Jika kasus sonokeling tidak diproses, pelakunya tidak diatasi jangan-jangan ada oknum yang bertanggungjawab dari dalam Polres Tulungagung yang melakukanya,” kata Awaludin, Kamis (26/9/19) di sela jalanya demo.

Awaludin mengatakan sudah sejak lama kasus ini tidak jelas penangananya. Jika dibiarkan, kasus ini bisa dijadikan stimulus (alasan) bagi orang-orang yang tidak bertnggungjawab untuk kembali melakukan pembalakan.

Belum adanya tersangka dalam kasus sonokeling di Tulungagung, beberapa pihak menganggap Polres Tulungagung lamban dalam menangani kasus ini.