Hendra Kristianto (baju merah) bersama adiknya dirumah kost berukuran 3x3 meter. (eko Arif s /JatimTimes)

Hendra Kristianto (baju merah) bersama adiknya dirumah kost berukuran 3x3 meter. (eko Arif s /JatimTimes)



 Bakti seorang anak kepada orangtua dilakukan setulus hati oleh Hendra Kristianto (25). 

Meskipun mempunyai keterbatasan fisik yang dimilikinya sejak lahir, bukan menjadi penghalang baginya untuk tetap merawat dan menjaga ayah kandungnya Edy Sugiyanto yang kini terbaring sakit akibat stroke yang diidapnya selama satu tahun lebih.

Tidak hanya menjaga ayahnya, sulung dari dua bersaudara ini juga menanggung beban untuk merawat adiknya bernama Erwin Kisyanto (22)  yang juga tidak bisa berjalan karena keterbatasan fisik bagian kakinya berukuran kecil.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari, ia terpaksa bekerja sebagai Pengemis. 

Profesinya itu, baru dilakoninya sekitar sekitar satu tahun lebih .

" Semua biaya, makan dan kost jadi tanggung jawab saya mas, termasuk adik. Adik saya ini kan gak bisa jalan, cuman bisa merambat di lantai," Cerita pemuda berusia 25 tahun yang mengaku tidak pernah mengenyam bangku pendidikan di sekolah ini, Kamis (26/9/19)

Hasil jerih payahnya bekerja sebagai pengemis dipinggir jalan tidak menentu. 

Terkadang paling banyak setiap hari penghasilnya Rp 50 ribu. 

Tapi jika sepi cuman Rp 40 ribu. Hendra  dan adiknya ditinggal ibunya tanpa pamit semenjak usianya masih 10 tahun. 

Hingga sampai sekarang dirinya tidak tahu lagi keberadaan ibunya dimana.

Tidak seperti layakanya orang  normal pada umumnya,  setelah lahir kondisi tubuh Hendra Kristianto  dan adiknya tidak bisa tumbuh kembang seukuran orang dewasa atau Stunting (suatu kondisi yang ditandai ketika panjang atau tinggi badan anak kurang jika dibandingkan dengan umur).

" Kita sudah kehilangan kontak, nomer Hp nya sudah saya hubungi tapi gak bisa, " ceritanya.

Selang beberapa tahun kemudian ia dan adiknya diajak pindah ke Kediri oleh ayahnya. 

Sebelum terserang penyakit Stroke semua kebutuhan hidup sehari hari, selalu dicukupi oleh ayahnya. 

Ayahnya kerja keras banting tulang sebagai kondektur bus.

Namun malang, tidak lama kemudian Edy Sugianto jatuh sakit. 

Karena keterbatasan biaya, Edy Sugianto tidak pernah di bawah ke Rumah Sakit melainkan hanya menjalani rawat jalan di kamar kost. 

Edy Sugianto kesulitan untuk berdiri, sehingga pada saat buang air kecil mau pun bab, ia terpaksa harus menggunakan alat bantu Pampers.

" Nggak pernah saya bawah ke rumah sakit, cuman diobati saja dirumah menggunakan obat. Sampai saat ini ayah saya masih ke sulitan untuk berjalan. Kalau saya pergi mengemis, yang jaga adik, " ungkapnya.

Kisah perjuangan hidup Hendra Kristianto dalam menghidupi keluarganya ini terungkap setelah yang bersangkutan terjaring penertiban Satpol PP Kota Kediri. Hendra  kemudian dibawa ke kantor Satpol PP Kota Kediri saat itu.

Ketika ditanya petugas, ia mengaku terpaksa menjadi pengemis karena harus menafkahi ayahnya yang sakit stroke. 

Petugas yang merasa iba, kemudian mengatarnya pulang ke tempat kosnya di Dusun Balong Desa Gogorante Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri.

Di tempat kamar kost berukuran 3X3 meter tersebut ia tinggal menetap bersama adik dan ayahnya. Setiap bulan kamar kosnya itu, ia sewa Rp 350 ribu.

"Kita mendapat laporan pengaduan dari masyarakat,mengenai adanya keberadaan pengemis di pinggir jalan. Orang yang melapor khawatir, takut  nantinya ketabrak. Waktu saya bawah uang hasil mengemis terkumpul baru Rp 15 ribu " ujar Nur Kamid selaku Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Kota Kediri. 


End of content

No more pages to load