Penampakan struktur bangunan petirtaan saat proses ekskavasi. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Penampakan struktur bangunan petirtaan saat proses ekskavasi. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Ekskavasi situs petirtaan suci di Dusun Sumberbeji, Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang diperpanjang hingga 3 hari ke depan. Selama ekskavasi, tim arkeolog BPCB Jatim berhasil mengungkap seluruh sudut dinding dari bangun purbakala itu.

Kegiatan ekskavasi ini telah dilakukan oleh BPCB Jatim sejak 9-18 September. Rencananya, ekskavasi ini akan dilanjutkan hingga Sabtu (21/9) besok.

Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho menjelaskan, dihari ke 10 ekskavasi ini, tim arkeolog tim berhasil menemukan semua sisi dinding petirtaan. Struktur dinding yang berhasil ditemukan yakni struktur bata merah berbentuk persegi, dengan panjang 20 meter dan lebar 17 meter.

Selain itu, upaya ekskavasi ini juga berhasil menemukan dasar kolam. Kedalam kolam yang berhasil ditemukan ini memiliki kedalaman hingga 2 meter dari permukaan dinding teratas. Dasar lantai berbentuk tatanan bata merah.

"Rencana memang ekskavasi selama 10 hari, dan berakhir hari ini (rabu, red). Namun pihak desa meminta ekskavasi diperpanjang sampai selesai, sehingga kami perpanjang hingga 3 hari kedepan, yakni sampai Sabtu (21/9)," kata Wicaksono saat diwawancarai di lokasi, Rabu (18/9) sore.

Dengan demikian, lanjut Wicaksono, sisa beberapa hari kedepan, pihaknya akan melakukan penyedotan lumpur dengan mesin penyedot.

"Harapannya dapat menampakkan petirtaan lebih utuh. Termasuk barangkali ada temuan-temuan lainnya," sambungnya.

Setelah ekskavasi selesai, Wicaksono mengatakan akan melakukan analisa guna mengetahui apakah perlu tahapan ekskavasi lanjutan atau tidak. 

"Ada beberapa PR (pekerjaan rumah), seperti tangga masuk yang kami perkirakan ada di sisi timur, tapi belum kami temukan sampai hari ini. Kemudian saluran buang, kami menemukan indikasi ada lubang di dinding utara. Tapi kami masih menunggu lumpur terangkat dulu," ungkapnya.

Namun jika telah cukup, perlu kajian zonasi untuk pemanfaatan ke depan. Hasil kajian tersebut nantinya akan disampaikan kepada pemerintah daerah Kabupaten Jombang.

"Pada intinya kami menyerahkan tinggalan cagar budaya ini ke pemerintah Kabupaten Jombang, berkaitan dengan pemanfaatan dan pemeliharaannya," ujarnya.

Sementara itu, sejauh melakukan ekskavasi, tim BPCB menemukan lima  jaladwara atau pancuran air kuno hingga temukan pancuran garuda, pada dinding selatan menghadap ke timur.

"Jadi berkaitan dengan pancuran garuda, ada satu PR juga, saya ingin melihat apakah bangunan ini dibangun pada satu masa pembangunan, atau pernah ada rehab. Untuk itu kami perlu (struktur) terbuka secara menyeluruh terlebih dahulu. Sehingga itu (garuda) itu asli sekali buat atau tambahan saat rehab," pungkasnya.(*)

 

<