Jajaran PT. KAI Daop 9 bersama dengan instansi terkait saat melakukan sosialisasi di JPL Baratan Patrang Jember
Jajaran PT. KAI Daop 9 bersama dengan instansi terkait saat melakukan sosialisasi di JPL Baratan Patrang Jember

Jumlah perlintasan kereta api di wilayah PT KAI Daop 9, yang meliputi wilayah Banyuwangi hingga Pasuruan, mencapai 281 buah. Namun, hanya 98 perlintasan yang dinyatakan resmi dan ada penjaganya. Sisanya, 207 perlintasan, tidak resmi alias tanpa penjagaan.

Hal ini disampaikan  Vice President PT KAI Daop 9 Jember Joko Widagdo saat melakukan sosialisasi keselamatan perlintasan sebidang di jalur perlintasan langsung (JPL) 162 Kelurahan Baratan Patrang Jember, Selasa (17/9/2019).

“Hari ini kami melakukan sosialisasi keselamatan berlalu lintas di JPL bersama dengan instansi terkait. Di antaranya dari Jasa Raharja, Dinas Perhubungan Kabupaten Jember, dan juga Satlantas Polres Jember. Sosialisasi ini menindaklanjuti FDG yang dihadiri seluruh stakeholders terkait. Di antaranya Komisi V DPR RI, Kementerian Perhubungan, Jasa Raharja dan Korlantas Polri,” ujar Joko.

Dari focus group discussion (FDG) yang membahas “lerlintasan sebidang tanggung jawab siapa” itu, lahir komitmen bersama yang ditandatangani DPR RI. “Kesepakatannya seluruh pihak harus mengevaluasi keselamatan sebidang sesuai tugas dan kewenangannya. Karena itu, hari ini kami mengimbau kepada masyarakat yang akan melintasi perlintasan sebidang agar bisa menjaga diri dan melihat ke kiri dan kanan terlebih dahulu. Semua itu demi keselamatan bersama,” ujar Joko.

Sementara Sulaiman -kepala Jasa Raharja Kabupaten Jember- dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa kecelakaan berlalu lintas terkait kereta api memang tidak terlalu signifikan. Namun setiap bulan selalu ada laporan yang masuk.

“Kecelakaan kereta api memang tidak terlalu banyak. Namun bisa dikatakan hampir setiap bulan ada. Untuk tahun 2019 ini saja sudah ada 9 kecelakaan kereta api yang mengklaim ke Jasa Raharja. Hal ini menunjukkan kalau angka kecelakaan kereta api masih perlu mendapat perhatian serius,” ujar Sulaiman.

Untuk diketahui, perlintasan sebidang adalah perpotongan antara jalur kereta api dan jalan yang dibuat sebidang. Lerlintasan sebidang ini muncuk dikarenakan meningkatnya mobilitas masyarakat pengguna kendaraan yang harus melintas atau berpotongan langsung dengan rel kereta api.