Ilustrasi

Ilustrasi



Meski perhelatan Pilwali baru tahun depan, namun mulai muncul fenomena unik. Para kandidat-kandidat 'menyerbu' PDIP agar memiliki kesempatan berkontestasi.

Saat ini, total 18 orang mendaftarkan diri untuk diusung oleh partai berlambang kepala banteng. Baik kader maupun non kader.

Mulai posisi Calon Walikota hingga Wakil Walikota banyak diminati. Dari politisi parpol lain pun mulai 'hijrah' ikut mendaftar. Mulai PAN, PKB, PPP, PBB ikut mengambil dan mengembalikan formulir pendaftaran.

Menurut Sosiolog Politik Unesa, Agus Mahfud Fauzi fenomena tersebut diakui menarik. Ia mengatakan banyak faktor yang mendasari.

Pertama sebagai peraih kursi terbanyak, kedua suara dalam Pileg 2019 tertinggi di Surabaya. "Tentu ini menjadi faktor penting mengapa PDIP menjadi magnet," ujarnya.

Mahfud melanjutkan, peran PDIP di balik  dua periode keberhasilan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga menjadi faktor. "Ada peran PDIP pula selama itu. Jelas menjadi alasan khusus pula," ujarnya.

Meskipun demikian, Agus mengingatkan agar jajaran struktural PDIP tidak gegabah dalam mengeluarkan rekom kelak. Suara kader di akar rumput tidak boleh dilupakan.

"Jangan sampai melupakan suara kader kultural. Apa yang menjadi aspirasi mereka harus didengar dan diwujudkan," kata dia.

Jika partai besutan Megawati Soekarnoputri ini mengabaikan, Mahfud mengatakan akan muncul resiko."Bisa berujung pada mesin partai yang tidak maksimal. Tentu saja itu merugikan," pungkas dia.


End of content

No more pages to load